Sajak
Riau Pos Ahad 14 sept 2008
Kau serupa waktu
yang memenjaraku dengan sesuatu yang berulang
dan yang tak akan pernah terulang
Saat kita bersandar di kursi merah hati itu
Saling mencuri pandang dalam keremangan
Aku merasa ada sesuatu yang hilang dari dadaku
Adakah hatiku yang kau curi itu?
Tapi kita terus berpura-pura memperhatikan penyanyi itu memainkan gitarnya
Dengan rambut gimbal seperti Bob Marley
Juga senyum kuda diwajahnya
O, bibirnya kelabu
Dirajam nikotin, juga kecupan
Dari gadis bar yang mengedip nakal
Anggur merah di meja sebelah
Serupa darah yang pernah mereka tumpahkan
Di kasur perawan
Dan kelam kopi di cangkirku
Merupa dosa silam
Yang terus memburuku ke masa depan
Seharusnya kita pulang saja waktu itu
Tapi bekas bibirmu di cangkir kopiku
Seperti waktu yang memenjara
Membuatku tersengat kenangan
Dan merungsingkan sekerat hatiku yang hilang
Kau yang mencurinya semalam?
Ruang Lengang, Mei 08
Seperih Puisi
/1/
Perih yang berkecamuk ini
Adalah lorong paling sempit dari sebuah jalan
/2/
Gelisah yang membuncah ini
Adalah lolong paling mengiba dari sebuah malam
/3/
Dan sepi yang membunuh ini
Adalah dasar paling kelam dari sebuah jurang
/4/
Kemana hendak membawa diri?
Aku terbantun-bantun di sisi paling tajam sebuah karang
/5/
Dan kemana mesti mengobati hati?
Yang terlanjur dirusak kisah cinta paling hampa sepanjang jaman
Dumai, April 2008
Sesuatu yang Bertahta di Lengkung Alismu
Kembang kuncup ini, seumpama asa yang lunglai
Menengadah memohon belasmu, O Tuan penyamun hati
Bibir yang kering ini, seumpama cinta tak sampai
Menadah memohon kecupmu, O Tuan penyemat mimpi
Seumpama gerinda mengamplas batu, ngilu berderai di belulangku
Seumpama ngilu yang abadi di hatiku, kau rajam aku dengan matamu
Fatamorgana kekal di padang kerontang, O, adakah oase disitu?
Ataukah hanya riak yang bertahta di kolam matamu?
Sesuatu yang bertahta di lengkung alismu, adalah serpih jantungku
Dan sesuatu yang menghempas di matamu, adalah buih ombak sebakku.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar