Pengikut

Januari 31, 2010

Hari ke 14 di Swedia

Weee, cuaca dua hari ini ngajak perang deh. sampai minus 14 derjat celcius. aku sampai kelaparan gini, tapi males banget keluar. beuh!

Juli 27, 2009

CN rasio

Masalah Analisa Rasio C/N Kompos TKKS

Rasio C/N adalah salah satu parameter penting untuk mengetahui kualitas kompos. Rasio ini digunakan untuk mengetahui apakah kompos (baca: bahan organik) sudah cukup ‘matang’ atau belum. Rasio C/N ini juga diatur di dalam SNI ataupun KepMenTan tentang kualitas kompos. Di dalam SNI rasio C/N kompos yang diijinkan adalah 10 – 20, sedangkan di dalam KepMenTan rasio C/N kompos yang diijinkan berkisar antara 20.

Selain pengamatan secara visual/fisik, analisa rasio C/N adalah parameter yang diuji pertama kali. Analisa rasio C/N digunakan untuk mengkonfirmasi pengamatan secara visul/fisik. secara fisik, kompos TKKS yang sudah cukup matang ditandai dengan: perubahan warna menjadi berwarna coklat tua,lunak dan mudah dihancurkan, tidak berbau menyengat, suhu mendekati suhu ruang. Rasio C/N kompos yang sudah cukup matang berdasarkan literatur berkisar antara 20 – 30.

Di sini masalah mulai muncul. Ternyata berdasarkan pengalaman,menganalisa rasio C/N kompos TKKS tidak semudah untuk kompos-kompos yang lain. Hasil analisa kadang-kadang tidak masuk di akal. Misalnya saja, ada hasil analisa rasio C/N kompos TKKS yang 135, 90, dan 100. Padahal TKKS segar rasio C/N berkisar antara 50 – 60. Mustahil, rasio C/N-nya kompos lebih tinggi daripada bahan bakunya. ….. ????????

Pengalaman ini membuat aku berfikir, apanya yang salah. Apakah metode pengomposanku yang kurang baik atau analisanya yang kurang benar? Untuk lebih menyakinkan aku, analisa dilakukan di dua lab yang berbeda. Ternyata hasil dari kedua lab ini berbeda juga. Semakin pusing saja kepalaku memikirkan hasil analisa ini. Dugaanku ini mungkin ada yang salah dimetodenya. Setelah aku cek, ternyata metode yang digunakan sama. Aku coba berdiskusi dengan analis yang melakukan analisa ini. Aku lihat juga data-data hasil analisa yang telah dilakukan sebelumnya, bahkan data-data beberapa tahun yang lalu. Aku tanyakan juga bagaimana mereka melakukan preparasi bahan yang akan dianalisa.

Dari diskusi-diskusi ini, mulai ada titik terang di mana letak kesalahannya. Ini baru dugaanku. Mungkin yang menyebabkan hasil analisa yang bermacam-macam dan aneh-aneh itu adalah preparasi bahan yang kurang baik. Kompos TKKS memiliki karakteristik yang berbeda dengan kompos-kompos yang lain. TKKS berserat dan serat ini belum benar-benar hancur pada saat pengomposan. Serat-serat ini sangat liat dan sulit dihancurkan. Meskipun sudah diblender sehalus mungkin, bentuknya masih berserat-serat. Jika di ayak dengan ayakan 60 mesh, masih banyak yang tersisa. Artinya mungkin sampel yang dianalisa tidak mewakili contoh komposnya.

Aku punya keinginan untuk melakukan studi tentang analisis rasio C/N untuk kompos TKKS. Tujuannya untuk mendapatkan metode preparasi yang akurat dan bisa dipercaya untuk mengambarkan rasio C/N sebenarnya dari kompos TKKS ini.

Oktober 09, 2008

Bekas Bibirmu di Cangkir Kopiku

Sajak
Riau Pos Ahad 14 sept 2008

Kau serupa waktu
yang memenjaraku dengan sesuatu yang berulang
dan yang tak akan pernah terulang

Saat kita bersandar di kursi merah hati itu
Saling mencuri pandang dalam keremangan
Aku merasa ada sesuatu yang hilang dari dadaku
Adakah hatiku yang kau curi itu?

Tapi kita terus berpura-pura memperhatikan penyanyi itu memainkan gitarnya
Dengan rambut gimbal seperti Bob Marley
Juga senyum kuda diwajahnya
O, bibirnya kelabu
Dirajam nikotin, juga kecupan
Dari gadis bar yang mengedip nakal

Anggur merah di meja sebelah
Serupa darah yang pernah mereka tumpahkan
Di kasur perawan

Dan kelam kopi di cangkirku
Merupa dosa silam
Yang terus memburuku ke masa depan

Seharusnya kita pulang saja waktu itu

Tapi bekas bibirmu di cangkir kopiku
Seperti waktu yang memenjara
Membuatku tersengat kenangan
Dan merungsingkan sekerat hatiku yang hilang
Kau yang mencurinya semalam?
Ruang Lengang, Mei 08



Seperih Puisi

/1/
Perih yang berkecamuk ini
Adalah lorong paling sempit dari sebuah jalan
/2/
Gelisah yang membuncah ini
Adalah lolong paling mengiba dari sebuah malam
/3/
Dan sepi yang membunuh ini
Adalah dasar paling kelam dari sebuah jurang
/4/
Kemana hendak membawa diri?
Aku terbantun-bantun di sisi paling tajam sebuah karang
/5/
Dan kemana mesti mengobati hati?
Yang terlanjur dirusak kisah cinta paling hampa sepanjang jaman

Dumai, April 2008

Sesuatu yang Bertahta di Lengkung Alismu

Kembang kuncup ini, seumpama asa yang lunglai
Menengadah memohon belasmu, O Tuan penyamun hati
Bibir yang kering ini, seumpama cinta tak sampai
Menadah memohon kecupmu, O Tuan penyemat mimpi

Seumpama gerinda mengamplas batu, ngilu berderai di belulangku
Seumpama ngilu yang abadi di hatiku, kau rajam aku dengan matamu
Fatamorgana kekal di padang kerontang, O, adakah oase disitu?
Ataukah hanya riak yang bertahta di kolam matamu?

Sesuatu yang bertahta di lengkung alismu, adalah serpih jantungku
Dan sesuatu yang menghempas di matamu, adalah buih ombak sebakku.

Juni 07, 2008

K ENAIKAN HARGA BBM VS EFISIENSI ENERGI

Keputusan pemerintah untuk menaikkan harga BBM sebesar 28,7% sepertinya sudah final dan tidak bisa lagi ditawar. Sebaliknya, mekanisme pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai social buffer sampai saat ini masih saja menimbulkan kontroversi. Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai badan yang berurusan dengan angka-angka termasuk angka jumlah penduduk miskin di Indonesia dinilai gagal memberikan informasi yang akurat. Akibatnya terjadi disparitas antara BLT yang dianggarkan oleh pemerintah dengan BLT yang seharusnya dibayarkan ke masyarakat. Disparitas tersebut dikhawatirkan akan menyebabkan kekacauan di beberapa daerah.
Disparitas jumlah penduduk miskin salah satunya disebabkan oleh perbedaan tolok ukur pendapatan per orang untuk bisa dikelompokkan dalam kategori miskin. Menurut BPS, orang miskin adalah mereka yang pendapatan hariannya tidak lebih dari Rp 5.500 atau Rp. 166.687 perbulan (2007). Berdasarkan ukuran ini jumlah penduduk miskin mencapai hampir 25% dari jumlah penduduk Indonesia. Sedangkan menurut versi lain, orang miskin adalah mereka yang pendapatan hariannya tidak lebih dari 1 dollar AS atau sekitar 270.000 perbulan. Kalau memakai ukuran ini tentunya jumlah penduduk miskin di Indonesia akan jauh lebih besar lagi. Hal ini selain sangat mengerikan juga menggambarkan betapa rendahnya laju perekonomian rakyat di tanah air.
Berdasarkan data BPS tahun 2005, jumlah sasaran BLT mencapai 19,1 juta keluarga. Jika diasumsikan satu keluarga minimal terdiri dari empat anggota keluarga, maka jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 76,4 juta jiwa. Ini bukan angka yang main-main. Jumlah penduduk miskin di Indonesia bahkan melebihi dua kali lipat jumlah penduduk Malaysia!
Dilain pihak, kenaikan harga BBM di awal dan di penghujung masa tugas Susilo Bambang Yudoyono-Jusuf Kalla bukanlah suatu keputusan yang populer. Dan dikhawatirkan hal ini akan menurunkan minat masyarakat untuk kembali memilih SBY pada pemilu tahun 2010 mendatang. Jika SBY sampai berani mengambil langkah ini, tentunya beliau sudah mempertimbangkan bahwa hal ini adalah langkah yang terbaik dari yang terburuk. Resesi ekonomi diseluruh dunia tidak hanya menimbulkan gejolak harga tapi juga diperburuk oleh kelangkaan pangan. Jika tidak ada langkah pengendalian situasi oleh pemerintah, dikhawatirkan Indonesia akan kembali keterpurukan seperti yang terjadi sepuluh tahun silam.
Sebenarnya kisruh masalah kenaikan harga BBM bisa diantisipasi dari awal seandainya antara pemerintah, swasta dan masyarakat terjadi kerja sama yang harmonis. Penggunaan data tahun 2005 untuk penyaluran BLT tahun 2008 jelas menunjukkan ketidaksiapan pemerintah. Untuk penyaluran BLT tahun 2005 saja, BPS memerlukan waktu kurang lebih 4 bulan untuk mendata jumlah keluarga miskin. Itu pun masih mengalami kebocoran sebesar 5,83%. Sepertinya pemerintah masih berharap terjadinya penurunan harga minyak dipasaran internasional sehingga tidak mempersiapkan diri untuk penyaluran BLT. Sementara harga minyak terus merangkak naik membuat pemerintah tidak punya pilihan lain selain menaikkan harga BBM. Sehingga terjadilah penyaluran BLT yang terkesan terburu-buru dan tidak dipersiapkan dengan baik.
Keyakinan pemerintah bahwa sebagian besar subsidi BBM justru dinikmati orang-orang kaya mungkin bisa ditanggulangi dengan cara menaikkan pendapatan dari pajak penghasilan, pajak usaha, pajak pertambahan nilai dan pajak pembelian barang mewah. Pemerintah juga bisa melakukan penghematan belanja negara, terutama untuk pengeluaran-pengeluaran yang sifatnya tidak penting. Misalnya dengan mengurangi gaji anggota DPR dan segala macam tunjangan dan fasilitasnya.
Swasta sangat berperan dalam peningkatan daya beli masyarakat. Golongan pengusaha diharapkan lebih memperhatikan tingkat kesejahteraan pekerjanya dengan memberikan upah sesuai dengan standard Upah Minimum Regional (UMR) untuk masing-masing daerah. Kelangkaan BBM untuk keperluan industri harus disiasati dengan melakukan penghematan, pengefisienan dan pengembangan sumber energi alternatif.
Sementara masyarakat sebagai pihak yang terkena dampak langsung kenaikan harga BBM seharusnya bisa menyikapi permasalahan ini secara lebih arif dan bijaksana. Kenaikan harga BBM tidak seharusnya ditanggapi dengan mengeluh, berdemo dan menghujat pemerintah, apalagi sampai melakukan aksi anarkis seperti perusakan fasilitas negara. Kesediaan pemerintah untuk memberikan Bantuan Langsung Tunai seharusnya kita terima dengan senang hati. Disaat gonjang-ganjing ekonomi seperti sekarang ini, kenaikan harga BBM dalam negeri merupakan suatu pilihan yang susah untuk dielakkan. Dengan bersikap arif, setidaknya kita bisa membantu terciptanya kestabilan di bidang keamanan dan politik. Jangan sampai drama krisis moneter babak II berlangsung di negeri yang baru saja merayakan 100 tahun kebangkitan nasional ini.
Sebagai masyarakat seharusnya kita bisa berpartisipasi dengan cara melakukan efisiensi energi. Terutama dibidang energi listrik dan BBM. Beberapa program efisiensi yang bisa kita terapkan, antara lain :
Pertama, dengan mensosialisasikan penggunaan alat transportasi massa. Kenaikan harga penjualan sepeda motor maupun mobil di Indonesia memang sangat menguntungkan dari segi industri. Tapi jika dilihat dari segi lingkungan dan persediaan energi, fenomena ini justru merupakan suatu bumerang. Peningkatan jumlah pemakai kendaraan pribadi berbanding lurus dengan peningkatan kemacetan lalu lintas, pemborosan BBM dan peningkatan pelepasan emisi gas rumah kaca ke udara. Pemerintah dalam hal ini juga tidak bisa lepas tangan, melainkan harus lebih aktif dalam pengadaan sarana angkutan umum yang aman, nyaman dan ramah lingkungan. Pengoperasian bus Trans Jakarta dan Trans Yogyakarta sebagai langkah awal pengadaan sarana transportasi massa yang nyaman mungkin bisa dijadikan acuan. Tapi tentunya harus diiringi dengan penambahan jumlah armada sehingga tidak terjadi penumpukan penumpang. Pembangunan kereta api bawah tanah mungkin juga bisa dijadikan solusi. Begitu juga dengan pembangunan monorail, transportasi air dan jenis-jenis transportasi lainnya. Penerbangan untuk jarak dekat juga harus dikurangi karena selain boros BBM juga membahayakan lingkungan. Pemerintah daerah juga bisa membuat kebijakan sendiri yang mendukung pensosialisasian penggunaan alat transportasi massa di daerahnya masing-masing. Misalnya dengan cara menambah armada-armada angkutan umum yang lebih nyaman dan meningkatkan pajak kendaraan pribadi sehingga masyarakat lebih tertarik untuk menggunakan angkutan umum.
Kedua, memaksimalkan pemakaian energi alternatif yang murah dan ramah lingkungan. Misalnya dengan membangun panel-panel tenaga surya sebagai sumber energi di gedung-gedung perkantoran dan fasilitas umum. Sebagai negara tropis Indonesia sangat beruntung memiliki energi matahari yang melimpah. Pembangunan panel-panel surya awalnya memang cukup mahal, tapi dalam jangka panjang mampu menghemat pemakaian listrik dalam jumlah besar.
Ketiga dengan cara menghemat pemakaian listrik. Penggunaan lampu disiang hari bisa disiasati dengan rancangan arsitektur rumah yang hemat energi. Misalnya dengan pembuatan kubah kaca, taman dalam rumah dan cara-cara lainnya. Penggunaan alat listrik pada jam 17 sampai 22 harus dibatasi untuk mengurangi beban puncak pemakaian listrik. Penggunaan AC bisa diganti dengan membuat ventilasi yang cukup dan pemakaian kipas angin. Hindari juga membiarkan TV dan alat elektronik lainnya dalam posisi stand by.
Keempat, dengan lebih meminimalkan pemakaian mesin dalam kehidupan sehari-hari. Kalau biasanya tergantung pada mesin cuci, mulailah membiasakan diri mencuci dengan tangan. Ada baiknya juga mengurangi fungsi kulkas dan freezer dengan lebih rajin berbelanja kebutuhan sehari-hari di pasar. Efisiensi energi akan lebih mudah dicapai jika masyarakat menjauhkan diri dari kebiasaan konsumtif. Back to nature adalah pilihan sikap yang bijak jika kita ingin bumi ini berumur lebih panjang. Berjalan kaki dan bersepeda selain meningkatkan kebugaran juga sangat menghemat penggunaan BBM.
Langkah-langkah besar selalu diawali dengan langkah kecil. Untuk itu daripada berkeluh kesah dan mengumpat pemerintah, ada baiknya kita bercermin sejenak. Apakah kita sudah melakukan efisiensi energi dalam kehidupan kita berumah tangga dan bermasyarakat? Jika belum, mulailah sekarang. Tidak ada kata telambat untuk melakukan kebajikan.

Sastra Lokal, Antara Nasionalisme dan Rasialisme

Seberapa besar universalitas yang harus dikandung sastra lokal sehingga tidak dituduh terjebak dalam arus rasial? Apa patokannya untuk membedakan sastra lokal dengan sastra yang tidak lokal? Apa pula kaitannya dengan nasionalisme dan rasialisme?
Pertanyaan-pertanyaan itu terserak di kepala saya begitu membaca tanggapan Zelfeni Wimra (ZW) di Riau Pos (20/4/08) terhadap essay “Ihwal Regenerasi Sastra Riau” yang ditulis Marhalim Zaini (MZ) secara bersambung dua minggu berturut-turut di Riau Pos (23&30/3/08) dan tanggapan MZ terhadap tulisan ZW di Riau Pos (11/5/08).
Sama sekali tidak ingin memperkeruh suasana dengan menghadirkan essay ini paska “polemik” yang tercipta antara ZW dan MZ. Juga tidak ada maksud untuk berpihak ataupun menjadi penengah. Tulisan ini semata-mata hanya ingin melepaskan unek-unek di benak saya sehubungan dengan pertanyaan-pertanyaan diatas.
Saya pribadi sependapat dengan MZ bahwa ZW kemungkinan besar salah persepsi terhadap istilah sastra Riau yang digunakan MZ dalam essay tersebut. Dan saya juga yakin bahwa MZ sama sekali tidak bermaksud melabeli sastra dengan beban-beban lokalitas sebagaimana yang dituduhkan ZW. Meski demikian, apa buruknya embel-embel sastra Riau atau sastra Jawa atau sastra Minangkabau? Toh semuanya tetap bermuara pada satu sastra : sastra Indonesia. Ingat, Ajip Rosidi dengan Rancage Award berhasil mengangkat sastra Sunda ke kancah nasional tanpa takut diberi label sastrawan rasis. Begitupun Ahmad Tohari dengan trilogi Ronggeng Dukuh Paruknya yang sangat njawani. Juga ada Gus Tf yang sangat meMinang bahkan ada Lan Fang yang berani mengusung tradisi Tionghoa ke dalam prosa-prosanya. Apakah kita berhak melabeli mereka dengan kata ekslusif dan rasis sementara kita sendiri belum terlalu memahami makna nasionalis?
Disatu pihak, kehadiran polemik ini di tengah gencar-gencarnya peringatan seratus tahun Hari Kebangkitan Nasional menyadarkan kita bahwa masih banyak kepingan-kepingan hilang yang merusak makna kesatuan. Pun dalam sastra, jika makna lokalitas dalam keberagaman masih saja diterjemahkan dengan cara yang salah. Apa itu sastra lokal dan apa itu sastra nasional masih saja ditempatkan pada sudut pandang yang terpisah. Sehingga muncullah sebutan ekslusif, rasis dan tidak nasionalis yang sebenarnya tidak perlu.

Kita mungkin lupa bahwa yang dimaksud dengan karya sastra nasional adalah kumpulan dari keseluruhan karya sastra yang ditulis sastrawan-sastrawan Indonesia, lengkap dengan segala keberanekaragamannya. Bahasa, setting lokasi dan waktu, plot, gaya penceritaan dan sebagainya mungkin hanya sebagian kecil dari keanekaragaman itu. Apakah sastra yang ditulis dengan bahasa daerah termasuk sastra nasional? Jawabnya harus iya. Apalagi jika sastra itu ditulis dalam bahasa nasional, hanya saja mengandung nilai lokal yang kental sebagaimana yang diusung Ahmad Tohari maupun Marhalim Zaini. Nah, jika sastra daerah merupakan bagian dari sastra nasional, tentunya tidak tepat jika kita menyebut sastrawan daerah tidak berjiwa nasionalis. Membesarkan sastra daerah imbasnya adalah membesarkan sastra nasional. Memberdayakan sastrawan-sastrawan daerah juga berarti mengangkat derajat sastra nasional. Suatu hal yang wajar jika MZ sebagai sastrawan Riau, secara terperinci berbicara tentang ihwal regenerasi sastra Riau. Wajar jika MZ dalam upaya mengangkat derajat sastra Riau menyemangati sastrawan-sastrawan Riau untuk rajin menyerang media dan lebih instens berkarya. Bukankah jika sastra Riau maju, derajat sastra Indonesia juga akan terangkat dengan sendirinya?
Indonesia adalah negara kepulauan yang dihuni berbagai macam suku. Ada Melayu, Minang, Jawa, Sunda, Batak dan masih banyak lagi. Masing-masing suku mewakili daerah tertentu, kebiasaan tertentu, budaya tertentu yang belum tentu sama antara satu dengan yang lain. Tapi bukankah keaneka ragaman itu yang membuat Indonesia ini kaya akan seni dan budaya? Dan meski berbeda-beda bukankah kita bertekad tetap satu sebagaimana semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang kita usung?
Sempit sekali pemikiran jika ada yang menyamakan lokalitas dengan rasis, ekslusif ataupun tidak nasionalis. Wajar jika MZ yang lahir dan besar di Riau menghasilkan karya-karya yang sangat kental nuansa Melayunya. Sewajar jika ZW yang lahir dan besar di Sumatera Barat menghasilkan karya-karya yang kental nuansa Minangkabaunya. Setiap penulis sebagai pribadi pasti terpengaruh dengan satu atau dua kebudayaan daerah tertentu. Bisa dikarenakan faktor keturunan (suku), faktor lingkungan (komunitas), maupun faktor geografis (tempat tinggal). Justru nuansa lokal yang beragam itu yang membuat karya-karya sastra Indonesia terasa ‘hidup’, ‘kaya’ dan eksotis. Makin heterogen kebudayaan, niscaya akan semakin luas daya eksplorasinya. Maka dengan keberanekaragaman ini seharusnya kita sebagai penulis merasa sangat beruntung, karena banyak sekali tema dan setting yang bisa kita pilih. Dan penikmat sastra juga merasa beruntung, karena banyak memiliki pilihan karya sastra untuk dibaca.
Saya setuju dengan MZ, bahwa suatu karya sastra, sekental apapun nuansa lokalnya, tetaplah sebuah karya yang universal. Dan sebuah karya sastra, sekental apapun nuansa lokalnya, tetaplah karya sastra nasional. Jadi mari kita angkat karya sastra daerah kita setinggi-tingginya, sebarluaskan sejauh-jauhnya, tanpa perlu takut dituduh rasis, tidak nasionalis atau pun ekslusif. Karena kalau bukan kita sebagai sastrawan, siapa lagi yang bisa kita harapkan mengusung karya sastra daerah kita? Apa perlu kita menunggu orang Malaysia yang mengusung karya sastra Riau dan mengklaimnya sebagai karya sastra mereka?
Kalau kita cermati akhir-akhir ini cukup banyak iven-iven sastra yang bernuansa kedaerahan. Diantaranya adalah lomba penulisan puisi dan cerpen berbasis cerita rakyat yang digelar di Jambi, lomba penulisan cerita rakyat Riau, Krakatau Award di Lampung, dan masih banyak lagi. Peserta iven-iven tersebut biasanya tidak dibatasi harus dari daerah penyelenggara acara, asalkan karya-karyanya mengandung muatan lokal yang disyaratkan. Itu adalah bukti bahwa untuk membangun sastra daerah tidak harus bersifat ekslusif. Bahkan beberapa Dewan Kesenian Daerah telah membuka diri dengan menerima karya-karya sastra dari penulis-penulis daerah lain untuk turut serta dalam lomba menulis yang mereka taja. Sebagai contoh, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) misalnya. Coba kita amati, seberapa sering penulis Jakarta yang memenangkan lomba menulis novel/ roman DKJ dibandingkan dengan penulis dari daerah/provinsi lain?
Sekali lagi, tulisan ini sama sekali tidak bermaksud membela MZ ataupun menyalahkan ZW. Bagaimana pun setiap polemik harus disikapi secara bijaksana. Dalam dunia sastra, kehadiran debat sastra atau pun polemik di media justru akan menggairahkan para sastrawan untuk ikutan bicara dan menyuarakan pedapat mereka masing-masing. Entah itu melalui diskusi di komunitas-komunitas sastra, di milis-milis sastra, maupun di media cetak.
Tidak perlu melupakan Indonesia, Bang MZ. Jangan pula merasa gamang menjadi Melayu. Menjadi rasis pun tidak apa, asalkan rasis dalam arti positif.

April 21, 2008

BBN vs Ketahanan Pangan

Bahan Bakar Nabati vs Ketahanan Pangan
Oleh : Wetri Febrina*)

Ketika harga minyak melambung di atas 100 US dollar per barel, masyarakat dunia kontan terhenyak dan perlahan terseret dalam arus inflasi. Berbagai usaha dilakukan untuk menghemat pemakaian bahan bakar minyak (BBM), salah satunya dengan giat memproduksi energi alternatif yang baru dan terbarukan (new and renewable). Dan pamor Bahan Bakar Nabati (BBN) pun naik dan menjadi perbincangan di media massa.
Sebenarnya bukan hanya karena tingginya harga BBM yang memicu meningkatnya produksi BBN, melainkan juga karena kesadaran untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih. Protokol Tokyo yang disepakati tahun 1997 dilanjutkan Peta Jalan Bali (Bali’s Road Map) tahun 2007 merumuskan berbagai langkah yang harus segera diambil untuk menyelamatkan lingkungan, diantaranya dengan pengurangan emisi gas karbon yang merupakan sumber penyebab utama pemanasan global.
Negara-negara maju dan negara-negara berkembang berlomba-lomba memproduksi BBN. Amerika tak tanggung-tanggung, memamfaatkan lebih 20% produksi jagung untuk memproduksi BBN (bioetanol). India memproduksi BBN (bioetanol) dari tebu, negara-negara Asia Tenggara memproduksi BBN (biodiesel) dari minyak kelapa sawit mentah (CPO), dan di Indonesia biodiesel sebagian diproduksi dari minyak jarak pagar. Tidak ketinggalan adalah produksi BBN (bioetanol) dari ubikayu, jagung, tebu, dan bahan pangan lainnya dan produksi BBN (biodiesel) dari kacang tanah, kacang kedelai, dan jenis kacang-kacangan lainnya. Pendek kata telah terjadi pergeseran pemamfaatan hasil pertanian, dari sumber persediaan pangan menjadi bahan baku industri.
Akibatnya apa? Telah terjadi impor hasil pertanian secara besar-besaran dari negara-negara miskin/berkembang yang berlahan luas tapi minim teknologi ke negara-negara maju yang berteknologi tinggi tapi minim lahan pertanian. Harga komiditi pertanian langsung melonjak. Mulai dari CPO, kacang kedelai, jagung, dan buntutnya berimbas pada kenaikan harga beras. Di Indonesia terjadi ekspor CPO secara besar-besaran yang menyebabkan kenaikan harga minyak goreng. Bahkan kenaikan biaya pungutan ekspor tidak mampu mengurangi laju pengiriman CPO ke luar negeri. Bahkan disinyalir telah terjadi ekspor CPO illegal melalui pelabuhan-pelabuhan di Riau dan Kepulauan Riau yang menyebabkan kerugian besar pada negara.
Jika kita tinjau sejarah perkembangan BBN di Indonesia, dimulai dengan terbentuknya Masyarakat Energi Hijau Indonesia (2005), B2TE-BPPT, Eka Tjipta Foundation dan Timnas Pengembangan BBN, awalnya memiliki tujuan mulia yaitu menciptakan bahan bakar bersih (cleaner fuel) dan meningkatkan kesejahteraan petani. Indonesia sebagai negara agraris berpotensi menjadi pemasok hasil pertanian terbesar di dunia jika dilakukan pemberdayaan dan pendiversifikasian hasil pertanian. Kehidupan petani yang identik dengan kemiskinan bisa dirubah dengan mengarahkan mereka untuk menanam tanaman sumber BBN seperti kelapa sawit, kedelai, jagung, jarak pagar, ubi kayu dan lain sebagainya. Namun pada perkembangannya, tujuan mulia ini menjadi kurang tepat sasaran. Apalagi tidak diiringi dengan proteksi dari pemerintah, dalam hal ini adalah Menteri Pertanian, Menteri Perdagangan, dan Menteri Energi dan Sumber Daya Manusia.
Bagaimana pengusaha CPO tidak ngiler dengan harga CPO yang gila-gilaan di pasar dunia? Daripada mengolah CPO menjadi minyak goreng dengan keuntungan kecil, mending mereka ekspor CPO dong! Di negara-negara miskin Afrika dan Amerika Latin juga muncul fenomena yang sama. Daripada menjual produk jagung mereka di dalam negeri, mending mereka ekspor ke Amerika Serikat yang memang sedang doyan-doyannya memamah jagung buat dijadikan bioetanol.
Mereka lupa, bumi yang sudah beratus tahun disakiti ini, terutama sejak Revolusi Industri di abad 19, mulai menunjukkan kemurkaannya. La Nina dan El Nino datang dan pergi tanpa permisi, juga segala macam amuk badai taufan, gempa, banjir dan entah apa lagi. Dunia dihentak oleh kelangkaan pangan. Di Afrika, ratusan ribu bahkan jutaan manusia tewas kelaparan. Bahkan di Indonesia yang katanya gemah ripah loh jinawi ini, puluhan kasus gizi buruk ditemukan setiap minggunya. Dan yang paling tragis adalah tewasnya dua anak beranak karena busung lapar beberapa waktu yang silam. Miris!
Lalu bagaimana solusinya? Jelas program BBN tidak bisa sepenuhnya disalahkan, hanya saja sistimnya lah yang perlu dibenahi. Jangan hanya karena ingin menghemat BBM, ratusan juta rakyat Indonesia harus menahan lapar setiap hari. Sebab apa gunanya juga trilyunan duit yang berhasil dihemat dari subsidi BBM jika tidak ada lagi makanan yang bisa dibeli. Manusia tidak bisa makan duit, makanannya nasi!
Mungkin sudah saatnya Indonesia kembali menjadi negara agraris, yang bisa berswasembada beras seperti di era Soeharto. Dan sudah saatnya pula Indonesia tidak dikendalikan oleh pengusaha yang profit oriented. Proteksi harga harus benar-benar dikendalikan oleh pemerintah. Dan yang pasti, cadangan pangan jangan hanya menjadi obralan basi BULOG belaka, harus jelas buktinya! Jangan sampai pernah terjadi lagi kematian karena busung lapar di negeri yang subur ini. Negeri yang katanya gabah terjatuh saja bisa tumbuh jadi padi. Pertanian terstruktur harus benar-benar dikembangkan. Jangan hanya karena kelapa sawit lebih menguntungkan, persawahan rakyat digusur. Pemerintah juga wajib mengupayakan para petani memiliki lahannya sendiri-sendiri, misalnya dengan memberdayakan lagi program transmigrasi yang akhir-akhir ini tidak terdengar lagi gaungnya. Jangan sampai ada petani yang seumur hidup menjadi buruh di sawah dan ladang orang lain. Lebih celaka lagi jika menjadi buruh di tanah dan perusahaan milik orang asing. Padahal tanah ini, warisan nenek moyang kita, kita rebut dengan darah dan nyawa dari tangan penjajah. Jika Penanaman Modal Asing (PMA) dibuka terlalu lebar, yang ada rakyat Indonesia tetap miskin sedang negara asing itu semakin kaya raya.
Penulis bukannya anti terhadap BBN, melainkan prihatin terhadap kondisi dunia akhir-akhir ini. Harga minyak goreng melambung, beras melambung, kedelai melambung, kita mau makan apa? Belum lagi banjir yang menimpa saudara-saudara kita di Pekanbaru. Sudahlah harga mahal, penghasilan tak ada, apa tidak celaka itu namanya?
BBN jelas perlu dikembangkan karena persediaan BBM semakin menipis. Belum lagi kenaikan harga BBM yang membuat pemerintah semakin kewalahan menanggung subsidi. Jika harga BBM naik lagi, rakyat jugalah yang jadi korban. Kemiskinan akan semakin bertambah, dan kematian karena kelaparan bukan mustahil akan kembali terulang. Pemberian BLT (Bantuan Langsung Tunai) harus tepat pada sasaran, harus benar-benar sampai di kantung rakyat miskin. Begitupun pemberian raskin, askeskin dan bantuan lainnya.
Terakhir, hematlah! Kalau bisa berjalan kaki, kenapa mesti naik motor? Kalau masih bisa naik angkot, kenapa mesti naik mobil pribadi? BBM tidak akan ada selamanya. Bahkan diyakini tahun 2020 cadangan minyak di Riau ini akan benar-benar habis tandas.
*) Penulis adalah dosen jurusan Teknik Industri pada Sekolah Tinggi Teknologi Dumai.

Maret 30, 2008

COBAAN

Juara I LKT MUI Bengkalis 2008

Magrib.
Azab mengalun mendayu-dayu, terbawa angin sampai ke pelabuhan, kebun sawit, bukit-bukit, menelusup ke kampung-kampung, rumah-rumah, ke telinga Ustad Suman. Tapi lelaki setengah baya itu tetap bergeming, tetap larut dalam pemikiran, mengisap rokok kretek di tangannya tak putus-putus. Wajahnya kalut.
“Tak ke mesjid, Bang?” Mak Saidah, istri Ustad Suman memberanikan diri menegur, demi melihat tak ada juga tanda-tanda suaminya akan bangkit menunaikan sholat Magrib. Mak Saidah sendiri sudah memakai telekung putih, siap-siap berangkat untuk sholat berjemaah ke mesjid.
“Tak lah,” Ustad Suman menggeleng. “Kau pergi sendiri saja. Biar aku sholat di rumah.” Itu pun kalau pikiranku lapang, sambung Ustad Suman dalam hati. Apa gunanya sholat tunggang tunggik kalau pikiran kusut? Bukannya dapat pahala, malah dapat murka.
“Pergilah, Bang,” Mak Saidah mendesak. “Sudah hampir sebulan Abang tak ke mesjid. Makin bertanya-tanya orang kampung. Biasanya menjadi imam dan memberi ceramah, tapi kini mendadak hilang. Segan aku, Bang.”
“Malu aku, Dah,” Ustad Suman menghela nafas. “Tak sanggup lagi kupandang muka orang.”
“Nasi sudah menjadi bubur, Bang. Si Atikah pun sudah kita nikahkan.”
“Tapi arang yang tercoreng di keningku ini tak bisa hilang. Percuma saja aku menceramahi orang tapi anakku sendiri tak bisa kubina.”
“Sudahlah, Bang.”
Ustad Suman menggeleng sedih. Keperihan merambati hatinya mengingat prahara yang menimpa keluarganya belakangan ini……..

Sebagai seorang Ustad, Ustad Suman sangat dihormati di lingkungan tempat tinggalnya. Tempat bertanya orang kampung, mulai dari urusan agama sampai urusan sehari-hari. Di kampung kecil itu, suasana sangatlah islami. Mesjid yang berdiri di tengah kampung selalu sesak sedari Magrib sampai Isya. Disitulah Ustad Suman biasa memberi ceramah agama dan mengajar mengaji.
Meski berpenghidupan sederhana sebagai guru Tsanawiyah, Ustad Suman tetap giat dan ulet. Lebih sepuluh tahun lamanya dia anak beranak hidup dalam keprihatinan, demi mencicil pembelian beberapa hektar kebun sawit.
“Buat bekal kuliah Atikah dan Fadli,” demikian Ustad Suman berujar pada istrinya. “Pandai-pandailah dulu kau mengatur uang belanja beberapa tahun ini. Kelak jika sawit sudah berbuah, barulah kita bisa lapang sedikit.”
Sebagai seorang istri, Mak Saidah sangatlah penyabar. Padahal berapalah gaji seorang guru MTs Swasta? Tidak berutang saja, gaji suaminya pas-pasan sekali buat biaya hidup mereka berempat anak beranak. Apalagi sekarang dipotong cicilan kredit bank yang hampir separuh gaji.
“Allah tak akan merubah nasib suatu kaum, kalau kaum itu tidak bisa merubah nasibnya sendiri,” demikian Ustad Suman memberi ceramah di mesjid.
“Kalau tidak dikuat-kuatkan, tak akan berubah nasib kami,” kata Ustad Suman pada rekannya sesama guru di MTs. “Demi kuliah anak-anak, makanya aku nekad berutang untuk membeli kebun sawit. Demi masa depan, maka kulepas anak-anakku kelak kuliah di luar Bengkalis. Anak-anak kampung disini, rata-rata sekolah cuma sampai MTs. Setelah itu menjadi petani. Pantas kampung kita begini-begini saja, karena tak ada pemudanya yang menuntut ilmu sampai perguruan tinggi.”
Kini sepuluh tahun sudah berlalu. Kebun sawit Ustad Suman sudah berbuah. Hutangnya pun sudah lama lunas. Penghidupan keluarga itu pun sudah jauh berubah. Tak ada lagi rumah sederhana berdinding papan, sudah berganti rumah tembok yang lebih megah. Tak ada juga sepeda motor tua di halaman, berganti dua mobil sedan. Satu dipakai Ustad Suman ke sekolah, satu lagi dipakai Fadli yang kini sudah SMA.
Ustad Suman sudah lupa dia pernah memberi ceramah, “Hiduplah sederhana seperti junjungan kita Nabi Muhammad. Karena Allah membenci segala sesuatu yang berlebih-lebihan.”
Sekarang Ustad Suman sendiri yang berlebih-lebihan. Pergi ke mesjid saja yang cuma beberapa ratus meter dari rumahnya, dia masih juga memakai sedan.
Betapa sulitnya mengaktualisasikan ajaran Nabi Muhammad pada kehidupannya sekarang. Anak-anaknya pun setali tiga uang. Si Fadli yang biasanya tiap malam rajin ke mesjid, sejak punya mobil sekarang lebih suka keluyuran. Si Atikah yang sekarang kuliah di Pekanbaru pun sudah lama tanggal jilbabnya. Alasannya, “Kalau pakai jilbab, susah mencari kerja. Apalagi aku kuliah di jurusan Perbankan yang suatu saat akan bekerja di Bank.”
Hanya Mak Saidah yang tidak berubah. Tapi perempuan itu pun tidak berdaya menegur suami dan anak-anaknya yang mulai melenceng dan salah jalan.
Pernah suatu waktu Mak Saidah pergi ke Pekanbaru mengunjungi Atikah. Nyaris copot jantung perempuan itu mendapati puntung rokok berserakan di kamar kos anak gadisnya. Atikah sendiri sama sekali tidak merasa bersalah, santai saja merokok di hadapan ibunya.
“Jaman sudah modern, Mak,” demikian Atikah menceramahi ibunya. “Perempuan merokok sudah biasa. Si Fadli bahkan lebih dari itu. Waktu pulang ke Bengkalis bulan lalu, aku mendapati pil narkoba di kamarnya.”
Panas dingin rasa badan Mak Saidah demi melihat perangai anak-anaknya. Perempuan itu hanya bisa mencucurkan air mata, memohon ampunan kepada Allah. Sungguh perempuan itu tak mengerti, kenapa justru semakin modern jaman semakin jahiliyah kelakuan anak-anaknya.
“Cobaan itu tidak hanya berupa kemiskinan, tapi juga bisa berupa kekayaan,” demikian Mak Saidah pernah mendengar. Dan memang sekarang keluarga mereka sedang dicoba dengan kilauan harta permata, dengan hingar bingar kehidupan modern. Hanya demi tidak dibilang kampungan, melenceng sudah dari ajaran Nabi. Anak-anak Mak Saidah yang masih remaja tidak mampu bertahan terhadap cobaan harta dan modernitas. Dimulai dari Fadli yang menjadi pencandu narkoba, hingga si Atikah yang akhirnya hamil di luar nikah.
Malu.
Aib.
Sebenarnya Mak Saidah sudah hilang akal, tak tahu lagi kemana menyurukkan muka. Tapi disabar-sabarkannya juga supaya tidak ambruk mereka anak beranak. Sementara Ustad Suman, suaminya lebih memilih menyembunyikan diri di rumah. Mengajar di MTs pun sudah berhenti. Alasannya ingin menyembunyikan kening yang tercoreng arang, tapi sampai kapan?
Terpaksa Mak Saidah sendirian pontang-panting memberesi segala urusan. Mulai dari mengirim si Fadli ke panti rehabilitasi narkoba, sampai mengurus pernikahan Atikah. Ustad Suman hanya menonton saja sambil berkeluh kesah.
“Aku letih menanggung malu, Dah. Apa tidak sebaiknya kita pindah saja ke Pekanbaru?” usul Ustad Suman sambil menerawang.
“Hidup dimana saja sama lah, Bang. Sedang di kampung kecil ini saja kita sudah kalah terhadap godaan jaman, apa lagi di kota besar? Istigfar, Bang. Mohon ampun kepada Allah. Dan mari kita kembali ke kehidupan kita yang lama. Saat semuanya sangat sederhana tapi kita bahagia.”
Ustad Suman tidak menjawab. Matanya menerawang menembus senja yang makin gelap. Sudah sebulan dia tak pernah lagi sholat Magrib.

Subuh.
Azan mengalun mendayu-dayu, terbawa angin ke pelabuhan, ke kampung-kampung, ke pucuk sawit, ke atap rumah, ke telinga Ustad Suman. Tapi tak mampu membangunkan lelaki itu dari tidurnya yang lelap.
“Dug! Dug! Dug!” ketukan keras di pintu yang akhirnya membuatnya tersentak. Mak Saidah yang baru saja hendak sholat subuh tak kurang terkejutnya. Siapa gerangan yang bertamu subuh-subuh begini?
“Aku, Mak! Udin!” teriak orang di balik pintu.
Mak Saidah bergegas membuka pintu. “Oh kau, Din. Apa gerangan kabar kau datang subuh-subuh begini?”
Ustad Suman keluar kamar dengan rambut masai dan mata merah, “Kenapa, Din?”
“Celaka, Ustad. Api merambat sampai ke kebun,” ujar Udin tersenggal-senggal. “Kebakaran hutan dan lahan sampai juga ke kebun kita, Ustad. Tak sanggup aku dan Anto memadamkan api. Amanat Ustad kepada kami sebagai penjaga kebun, tak sanggup lagi kami pikul. Ini sudah diluar kuasa kami, Ustad.”
“Astagfirullah, “ Mak Saidah mengurut dada.
Ustad Suman terperosok di lantai. Lemas sudah lutut-lututnya.
“Habis, Din?” tanyanya dengan bibir gemetar. “Habis terbakar semua?”
Udin tak sempat menjawab. Mak Saidah menjerit, demi melihat Ustad Suman yang membekap dadanya.
“Kenapa Bang?!! Abang!!”
“Sepertinya kena serangan jantung, Mak!” teriak Udin tak kalah panik.

Dumai, Maret 2008.