Juara I LKT MUI Bengkalis 2008
Magrib.
Azab mengalun mendayu-dayu, terbawa angin sampai ke pelabuhan, kebun sawit, bukit-bukit, menelusup ke kampung-kampung, rumah-rumah, ke telinga Ustad Suman. Tapi lelaki setengah baya itu tetap bergeming, tetap larut dalam pemikiran, mengisap rokok kretek di tangannya tak putus-putus. Wajahnya kalut.
“Tak ke mesjid, Bang?” Mak Saidah, istri Ustad Suman memberanikan diri menegur, demi melihat tak ada juga tanda-tanda suaminya akan bangkit menunaikan sholat Magrib. Mak Saidah sendiri sudah memakai telekung putih, siap-siap berangkat untuk sholat berjemaah ke mesjid.
“Tak lah,” Ustad Suman menggeleng. “Kau pergi sendiri saja. Biar aku sholat di rumah.” Itu pun kalau pikiranku lapang, sambung Ustad Suman dalam hati. Apa gunanya sholat tunggang tunggik kalau pikiran kusut? Bukannya dapat pahala, malah dapat murka.
“Pergilah, Bang,” Mak Saidah mendesak. “Sudah hampir sebulan Abang tak ke mesjid. Makin bertanya-tanya orang kampung. Biasanya menjadi imam dan memberi ceramah, tapi kini mendadak hilang. Segan aku, Bang.”
“Malu aku, Dah,” Ustad Suman menghela nafas. “Tak sanggup lagi kupandang muka orang.”
“Nasi sudah menjadi bubur, Bang. Si Atikah pun sudah kita nikahkan.”
“Tapi arang yang tercoreng di keningku ini tak bisa hilang. Percuma saja aku menceramahi orang tapi anakku sendiri tak bisa kubina.”
“Sudahlah, Bang.”
Ustad Suman menggeleng sedih. Keperihan merambati hatinya mengingat prahara yang menimpa keluarganya belakangan ini……..
Sebagai seorang Ustad, Ustad Suman sangat dihormati di lingkungan tempat tinggalnya. Tempat bertanya orang kampung, mulai dari urusan agama sampai urusan sehari-hari. Di kampung kecil itu, suasana sangatlah islami. Mesjid yang berdiri di tengah kampung selalu sesak sedari Magrib sampai Isya. Disitulah Ustad Suman biasa memberi ceramah agama dan mengajar mengaji.
Meski berpenghidupan sederhana sebagai guru Tsanawiyah, Ustad Suman tetap giat dan ulet. Lebih sepuluh tahun lamanya dia anak beranak hidup dalam keprihatinan, demi mencicil pembelian beberapa hektar kebun sawit.
“Buat bekal kuliah Atikah dan Fadli,” demikian Ustad Suman berujar pada istrinya. “Pandai-pandailah dulu kau mengatur uang belanja beberapa tahun ini. Kelak jika sawit sudah berbuah, barulah kita bisa lapang sedikit.”
Sebagai seorang istri, Mak Saidah sangatlah penyabar. Padahal berapalah gaji seorang guru MTs Swasta? Tidak berutang saja, gaji suaminya pas-pasan sekali buat biaya hidup mereka berempat anak beranak. Apalagi sekarang dipotong cicilan kredit bank yang hampir separuh gaji.
“Allah tak akan merubah nasib suatu kaum, kalau kaum itu tidak bisa merubah nasibnya sendiri,” demikian Ustad Suman memberi ceramah di mesjid.
“Kalau tidak dikuat-kuatkan, tak akan berubah nasib kami,” kata Ustad Suman pada rekannya sesama guru di MTs. “Demi kuliah anak-anak, makanya aku nekad berutang untuk membeli kebun sawit. Demi masa depan, maka kulepas anak-anakku kelak kuliah di luar Bengkalis. Anak-anak kampung disini, rata-rata sekolah cuma sampai MTs. Setelah itu menjadi petani. Pantas kampung kita begini-begini saja, karena tak ada pemudanya yang menuntut ilmu sampai perguruan tinggi.”
Kini sepuluh tahun sudah berlalu. Kebun sawit Ustad Suman sudah berbuah. Hutangnya pun sudah lama lunas. Penghidupan keluarga itu pun sudah jauh berubah. Tak ada lagi rumah sederhana berdinding papan, sudah berganti rumah tembok yang lebih megah. Tak ada juga sepeda motor tua di halaman, berganti dua mobil sedan. Satu dipakai Ustad Suman ke sekolah, satu lagi dipakai Fadli yang kini sudah SMA.
Ustad Suman sudah lupa dia pernah memberi ceramah, “Hiduplah sederhana seperti junjungan kita Nabi Muhammad. Karena Allah membenci segala sesuatu yang berlebih-lebihan.”
Sekarang Ustad Suman sendiri yang berlebih-lebihan. Pergi ke mesjid saja yang cuma beberapa ratus meter dari rumahnya, dia masih juga memakai sedan.
Betapa sulitnya mengaktualisasikan ajaran Nabi Muhammad pada kehidupannya sekarang. Anak-anaknya pun setali tiga uang. Si Fadli yang biasanya tiap malam rajin ke mesjid, sejak punya mobil sekarang lebih suka keluyuran. Si Atikah yang sekarang kuliah di Pekanbaru pun sudah lama tanggal jilbabnya. Alasannya, “Kalau pakai jilbab, susah mencari kerja. Apalagi aku kuliah di jurusan Perbankan yang suatu saat akan bekerja di Bank.”
Hanya Mak Saidah yang tidak berubah. Tapi perempuan itu pun tidak berdaya menegur suami dan anak-anaknya yang mulai melenceng dan salah jalan.
Pernah suatu waktu Mak Saidah pergi ke Pekanbaru mengunjungi Atikah. Nyaris copot jantung perempuan itu mendapati puntung rokok berserakan di kamar kos anak gadisnya. Atikah sendiri sama sekali tidak merasa bersalah, santai saja merokok di hadapan ibunya.
“Jaman sudah modern, Mak,” demikian Atikah menceramahi ibunya. “Perempuan merokok sudah biasa. Si Fadli bahkan lebih dari itu. Waktu pulang ke Bengkalis bulan lalu, aku mendapati pil narkoba di kamarnya.”
Panas dingin rasa badan Mak Saidah demi melihat perangai anak-anaknya. Perempuan itu hanya bisa mencucurkan air mata, memohon ampunan kepada Allah. Sungguh perempuan itu tak mengerti, kenapa justru semakin modern jaman semakin jahiliyah kelakuan anak-anaknya.
“Cobaan itu tidak hanya berupa kemiskinan, tapi juga bisa berupa kekayaan,” demikian Mak Saidah pernah mendengar. Dan memang sekarang keluarga mereka sedang dicoba dengan kilauan harta permata, dengan hingar bingar kehidupan modern. Hanya demi tidak dibilang kampungan, melenceng sudah dari ajaran Nabi. Anak-anak Mak Saidah yang masih remaja tidak mampu bertahan terhadap cobaan harta dan modernitas. Dimulai dari Fadli yang menjadi pencandu narkoba, hingga si Atikah yang akhirnya hamil di luar nikah.
Malu.
Aib.
Sebenarnya Mak Saidah sudah hilang akal, tak tahu lagi kemana menyurukkan muka. Tapi disabar-sabarkannya juga supaya tidak ambruk mereka anak beranak. Sementara Ustad Suman, suaminya lebih memilih menyembunyikan diri di rumah. Mengajar di MTs pun sudah berhenti. Alasannya ingin menyembunyikan kening yang tercoreng arang, tapi sampai kapan?
Terpaksa Mak Saidah sendirian pontang-panting memberesi segala urusan. Mulai dari mengirim si Fadli ke panti rehabilitasi narkoba, sampai mengurus pernikahan Atikah. Ustad Suman hanya menonton saja sambil berkeluh kesah.
“Aku letih menanggung malu, Dah. Apa tidak sebaiknya kita pindah saja ke Pekanbaru?” usul Ustad Suman sambil menerawang.
“Hidup dimana saja sama lah, Bang. Sedang di kampung kecil ini saja kita sudah kalah terhadap godaan jaman, apa lagi di kota besar? Istigfar, Bang. Mohon ampun kepada Allah. Dan mari kita kembali ke kehidupan kita yang lama. Saat semuanya sangat sederhana tapi kita bahagia.”
Ustad Suman tidak menjawab. Matanya menerawang menembus senja yang makin gelap. Sudah sebulan dia tak pernah lagi sholat Magrib.
Subuh.
Azan mengalun mendayu-dayu, terbawa angin ke pelabuhan, ke kampung-kampung, ke pucuk sawit, ke atap rumah, ke telinga Ustad Suman. Tapi tak mampu membangunkan lelaki itu dari tidurnya yang lelap.
“Dug! Dug! Dug!” ketukan keras di pintu yang akhirnya membuatnya tersentak. Mak Saidah yang baru saja hendak sholat subuh tak kurang terkejutnya. Siapa gerangan yang bertamu subuh-subuh begini?
“Aku, Mak! Udin!” teriak orang di balik pintu.
Mak Saidah bergegas membuka pintu. “Oh kau, Din. Apa gerangan kabar kau datang subuh-subuh begini?”
Ustad Suman keluar kamar dengan rambut masai dan mata merah, “Kenapa, Din?”
“Celaka, Ustad. Api merambat sampai ke kebun,” ujar Udin tersenggal-senggal. “Kebakaran hutan dan lahan sampai juga ke kebun kita, Ustad. Tak sanggup aku dan Anto memadamkan api. Amanat Ustad kepada kami sebagai penjaga kebun, tak sanggup lagi kami pikul. Ini sudah diluar kuasa kami, Ustad.”
“Astagfirullah, “ Mak Saidah mengurut dada.
Ustad Suman terperosok di lantai. Lemas sudah lutut-lututnya.
“Habis, Din?” tanyanya dengan bibir gemetar. “Habis terbakar semua?”
Udin tak sempat menjawab. Mak Saidah menjerit, demi melihat Ustad Suman yang membekap dadanya.
“Kenapa Bang?!! Abang!!”
“Sepertinya kena serangan jantung, Mak!” teriak Udin tak kalah panik.
Dumai, Maret 2008.
Maret 30, 2008
Sajak Senja
Remang
Senja gulana
Angin mengirim miris
Ada urai air mata
Tercekat dalam sebak
Dan tangis tertahan
Gerimis merinai
Siang usai
Kenapa harus kepada senja
Aku luahkan segala gulana?
Sementara malam setia mengirim cekam
Pada gigil penghabisan
Apa karena aku percaya bahwa diujung malam
Hari baru akan dimulai?
4/3/08
Senja gulana
Angin mengirim miris
Ada urai air mata
Tercekat dalam sebak
Dan tangis tertahan
Gerimis merinai
Siang usai
Kenapa harus kepada senja
Aku luahkan segala gulana?
Sementara malam setia mengirim cekam
Pada gigil penghabisan
Apa karena aku percaya bahwa diujung malam
Hari baru akan dimulai?
4/3/08
Maret 27, 2008
Dosen STT Dumai Juara Pertama Lomba Menulis MUI
Riau Pos, Rabu 26/3/08
BENGKALIS (RP) - Wetry Pebrina (30) dosen Sekolah Tinggi Teknologi Dumai, tampil sebagai juara pertama lomba menulis, sempena Pekan Maulidurrasul 1429 Hijriah, yang ditaja Majlis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bengkalis, bekerja sama dengan Pemkab Bengkalis.
Penulis aktif yang telah menghasilkan dua buah cerpen terbitan Jakarta tersebut, menjadi yang terbaik dari sekitar 50 karya tulis yang masuk ke meja panitia. Wetry menulis fiksi dengan judul Cobaan, berkisah tentang keluarga seorang ustad yang sederhana namun kemudian ‘ingkar’ karena sibuk mengurusi harta. Sebetulnya, pesan yang ingin disampaikan penulis dalam tulisannya adalah, sulitnya mengaplikasikan keteladanan Rasulullah, kendati keluarga ustad itu hanya tinggal di desa terpencil.
Sedangkan juara kedua diraih Bagus Santoso dari Bengkalis. Santoso mengangkat tulisan Ayat-Ayat Cinta (Mengatualkan Islam se- Hari-hari). Kendati hanya meraih tempat ke dua, namun sejumlah dewan juri mengaku memberikan apresiasi kepada mantan wartawan Riau Pos Group ini. Di tengah kesibukan yang begitu padat, Wakil Ketua DPRD Bengkalis ini masih memiliki kesempatan membuat sebuah karya tulis.
“Terus terang saya kagum, sangat sedikit sekali orang yang bisa menulis ketika berbagai kesibukan menyertainya. Karena untuk membuat sebuah karya tulis kendati hanya lima halaman, itu memerlukan waktu khusus. Mudah-mudahan ini bisa memacu kita semua untuk gemar dan belajar menulis,” ungkap Ketua MUI Bengkalis Masdaruddin MAg.
Santoso sendiri, ketika dihubungi untuk dimintai pendapatnya, sambil tertawa mengatakan, bahwa berda’wah itu bisa dilakukan siapa saja. “Saya tidak melihat ini sebagai sebuah perlomabaan. Hitung-hitung mengasah bakat lama. Dan berdakwah itu kan bisa dilakukan siapa saja, dan saya menangkap hal itu dalam gawean MUI kali ini,” ungkap dosen STAI Bengkalis yang masih aktif menulis di sejumlah media ini.
Sementara juara ketiga diraih Lailatul Badriah. Mahasiswa STAI Bengkalis ini mengangkat tulisan dengan judul Sang Idola di Era Globalisasi. Untuk juara haparan 1 diraih oleh M Rizal, dengan judul tulisan Muhammad Bukan Idola Biasa, harapan II Meri Agustina dari Kecamatan Mandau, dengam judul tulisan Mereka Sungguh Berani, terakhir harapan III diraih Dewi Handayani, juga mahasiswa STAI Bengkalis dengan judul tulisan Islam Dulu Kini dan Akan Datang.
Dalam pada itu tiga orang dewan juri yang memeriksa sejumlah tulisan hampir saja kecolongan, pasalnya salah satu karya tulis sudah dinyatakan sebagai pemenang oleh juri. Ketiganya sepakat bahwa salah satu tulisan yang dikirim oleh penulis di luar Kabupaten Bengkalis sebagai pemenang.
Beruntung ketika itu ada panitia yang menyerahkan tulisan tersebut kepada ketua MUI Kabupaten Bengkalis Masdaruddin. Belum selesai membaca, Masdar berani mengatakan tulisan tersebut adalah buah karya Jalaluddin Rakhmat, yang dijiplak oleh penulis dalam salah satu buku karya tokoh terkenal itu.
Benar saja, ketika buku yang dimaksud diambil dan dibaca bersama-sama, hampir seluruh kata dan kalimat dalam buku tersebut dijiplaknya. “Beruntung Ketua MUI pernah membaca buku itu, kalau tidak kami sudah melakukan kesalahan,” kesal Musa Ismail, salah seorang dewan juri sembari mencoret nama penulis yang mengirimkan tulisan hasil jiplakan.(evi)
BENGKALIS (RP) - Wetry Pebrina (30) dosen Sekolah Tinggi Teknologi Dumai, tampil sebagai juara pertama lomba menulis, sempena Pekan Maulidurrasul 1429 Hijriah, yang ditaja Majlis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bengkalis, bekerja sama dengan Pemkab Bengkalis.
Penulis aktif yang telah menghasilkan dua buah cerpen terbitan Jakarta tersebut, menjadi yang terbaik dari sekitar 50 karya tulis yang masuk ke meja panitia. Wetry menulis fiksi dengan judul Cobaan, berkisah tentang keluarga seorang ustad yang sederhana namun kemudian ‘ingkar’ karena sibuk mengurusi harta. Sebetulnya, pesan yang ingin disampaikan penulis dalam tulisannya adalah, sulitnya mengaplikasikan keteladanan Rasulullah, kendati keluarga ustad itu hanya tinggal di desa terpencil.
Sedangkan juara kedua diraih Bagus Santoso dari Bengkalis. Santoso mengangkat tulisan Ayat-Ayat Cinta (Mengatualkan Islam se- Hari-hari). Kendati hanya meraih tempat ke dua, namun sejumlah dewan juri mengaku memberikan apresiasi kepada mantan wartawan Riau Pos Group ini. Di tengah kesibukan yang begitu padat, Wakil Ketua DPRD Bengkalis ini masih memiliki kesempatan membuat sebuah karya tulis.
“Terus terang saya kagum, sangat sedikit sekali orang yang bisa menulis ketika berbagai kesibukan menyertainya. Karena untuk membuat sebuah karya tulis kendati hanya lima halaman, itu memerlukan waktu khusus. Mudah-mudahan ini bisa memacu kita semua untuk gemar dan belajar menulis,” ungkap Ketua MUI Bengkalis Masdaruddin MAg.
Santoso sendiri, ketika dihubungi untuk dimintai pendapatnya, sambil tertawa mengatakan, bahwa berda’wah itu bisa dilakukan siapa saja. “Saya tidak melihat ini sebagai sebuah perlomabaan. Hitung-hitung mengasah bakat lama. Dan berdakwah itu kan bisa dilakukan siapa saja, dan saya menangkap hal itu dalam gawean MUI kali ini,” ungkap dosen STAI Bengkalis yang masih aktif menulis di sejumlah media ini.
Sementara juara ketiga diraih Lailatul Badriah. Mahasiswa STAI Bengkalis ini mengangkat tulisan dengan judul Sang Idola di Era Globalisasi. Untuk juara haparan 1 diraih oleh M Rizal, dengan judul tulisan Muhammad Bukan Idola Biasa, harapan II Meri Agustina dari Kecamatan Mandau, dengam judul tulisan Mereka Sungguh Berani, terakhir harapan III diraih Dewi Handayani, juga mahasiswa STAI Bengkalis dengan judul tulisan Islam Dulu Kini dan Akan Datang.
Dalam pada itu tiga orang dewan juri yang memeriksa sejumlah tulisan hampir saja kecolongan, pasalnya salah satu karya tulis sudah dinyatakan sebagai pemenang oleh juri. Ketiganya sepakat bahwa salah satu tulisan yang dikirim oleh penulis di luar Kabupaten Bengkalis sebagai pemenang.
Beruntung ketika itu ada panitia yang menyerahkan tulisan tersebut kepada ketua MUI Kabupaten Bengkalis Masdaruddin. Belum selesai membaca, Masdar berani mengatakan tulisan tersebut adalah buah karya Jalaluddin Rakhmat, yang dijiplak oleh penulis dalam salah satu buku karya tokoh terkenal itu.
Benar saja, ketika buku yang dimaksud diambil dan dibaca bersama-sama, hampir seluruh kata dan kalimat dalam buku tersebut dijiplaknya. “Beruntung Ketua MUI pernah membaca buku itu, kalau tidak kami sudah melakukan kesalahan,” kesal Musa Ismail, salah seorang dewan juri sembari mencoret nama penulis yang mengirimkan tulisan hasil jiplakan.(evi)
Maret 25, 2008
Bagaimana Mengapresiasikan sastra
Essay Budaya
Dimuat di Riau Pos edisi Ahad 24 February 2008
BAGAIMANA MENGAPRESIASIKAN SASTRA
Oleh : Wetry Febrina*)
Jika boleh mengutip kata-kata Aristoteles, “Sastra adalah jalan menuju kebenaran setelah wahyu, filsafat dan ilmu pengetahuan,” saya merasa bahwa sastra tidak lain merupakan bagian seni yang termarjinalkan. Taruhlah itu hanya pendapat seorang Aristoteles, yang belum tentu mewakili pendapat publik. Sudah syukur Aristoteles mau mengakui adanya wahyu (agama), ilmu pengetahuan dan sastra, karena kebanyakan filsuf beranggapan bahwa filsafatlah yang paling tepat untuk mencari jalan kebenaran.
Aristoteles hanyalah seseorang yang hidup di masa lalu, tapi entah kenapa kutipan kata-katanya itu menimbulkan keresahan kepada saya sampai sekarang. Apa benar bahwa posisi sastra adalah di belakang wahyu, filsafat dan ilmu pengetahuan?
Coba kita lihat kondisi dunia sastra di Indonesia pada masa sekarang. Seberapa banyak sih orangtua yang mengarahkan anaknya menjadi pengarang ketimbang menjadi dokter atau insinyur misalnya? Di perguruan-perguruan tinggi, mahasiswa fakultas sastra sering dipandang sebagai warga kelas dua. Di pergaulan masyarakat, profesi penulis atau penyair sering dianggap pekerjaan sambilan. Sehingga jika ada seseorang yang dengan lantang menyebut profesinya penulis, masyarakat sekitarnya akan mengatakannya sebagai seseorang yang tidak memiliki pekerjaan, alias pengangguran!
Miris. Dan mau tak mau mengingatkan saya pada beberapa sastrawan besar yang sampai sekarang hidupnya masih berkekurangan. Kemana-mana naik bis dan kereta, masih tinggal di rumah kontrakan dan sering kekurangan uang. Sebagian dari mereka berbesar hati menganggap bahwa itu adalah harga yang pantas untuk sebuah totalisme. Tapi saya yang berkecil hati ini menganggap, betapa rendahnya penghargaan pemerintah dan masyarakat terhadap profesi sastrawan.
Pada Sabtu (16/2) kemaren saya berkesempatan menghadiri acara ulang tahun sebuah milis sastra di Jakarta. Acara yang digagas dengan konsep ’dari kita untuk kita’ ini sukses mempertemukan dua kubu : senior dan junior, penyair dan penulis, idola dan penggemar, tua dan muda, dan lain sebagainya. Berbagai antraksi menarik juga disuguhkan. Antara lain monolog ’Tragedy Apel Newton” oleh Danarto, pembacaan cerpen oleh Hamsad Rangkuti, monolog’Cantik Itu Luka’ karya Eka Kurniawan, pembacaan puisi, teater dan lain sebagainya. Karena anggota milis ini kebanyakan adalah penyair dan penulis, maka apresiasi mereka terhadap sastra kiranya tak bisa diragukan lagi. Maka beberapa jam pertama atmosfir sastra yang menguar disana benar-benar saya nikmati.
Tapi kondisinya berbeda saat sebuah kelompok teater mahasiswa di Jakarta bersiap-siap tampil membawakan ’Perempuan Kembang Jepun’ karya Lan Fang. Atmosfir sastra disana sedikit berubah seiring hadirnya beberapa anak muda (mahasiswa) yang ingin menyaksikan penampilan. Saya yang duduk nyempil di pojok, dekat sekali dengan mereka, mau tak mau terusik dengan celetukan dan komentar yang mencerminkan betapa miskinnya apresiasi anak muda terhadap sastra. Okelah, anak-anak muda itu datang untuk melihat penampilan teman-teman mereka, bukan melihat penampilan para sastrawan senior sekelas Danarto dan Hamsad Rangkuti. Mereka bahkan tak kenal siapa itu Hamsad dan Danarto!
Lalu siapa yang salah dengan kondisi ini? Kurikulum pendidikan yang masih memarjinalkan sastra atau sastrawan itu sendiri? Sedih mengingat bahwa anak-anak muda luar negeri antusias membaca karya Pramudya, sedang anak muda di Indonesia balik bertanya, ”Pramudya siapa sih?” Disaat anak-anak sekolahan di luar negeri aktif menelaah karya-karya Shakespeare, Tolstoy dan Kafka, anak-anak sekolahan disini masih saja dicekoki apa perbedaan antara angkatan Pujangga Baru dengan Balai Pustaka. Lebih parahnya lagi soal-soal ujian yang menanyakan hal-hal sepele, seperti dimana Chairil Anwar lahir atau tanggal berapa Marah Rusli lahir. Benar-benar miris...
Tak heran jika perkembangan sastra di tanah air cenderung jalan di tempat. Kalaupun ada beberapa sastrawan muda yang menggebrak, tapi jumlah mereka masih sangat sedikit. Padahal seiring dengan berakhirnya era orde baru diharapkan dunia sastra akan menemukan jalan pembebasan. Karya sastra yang bebas dari segala intimidasi dan campur tangan pemerintah, sastrawan yang bebas menulis tanpa harus gelisah bakal menghadapi nasib seperti Pram : dipenjara tanpa alasan yang jelas. Tapi kenyataannya, momen bagus ini masih sangat sedikit dimamfaatkan. Apa karena sastrawan-sastrawan tua masih sulit membebaskan imajinasi mereka, atau karena sastrawan-sastrawan muda belum bisa mengasah kemampuan dan pengalaman mereka, atau mungkin karena perpaduan sebab keduanya. Entahlah.
Beberapa sastrawan muda yang menemukan jalan kebebasannya setelah orde baru diharapkan bisa menjadi pembuka jalan bagi sastrawan muda lainnya. Diantaranya yang bisa kita jadikan role model adalah Ayu Utami dengan Saman-nya dan Eka Kurniawan dengan Cantik Itu Luka-nya. ”Saman” karya Ayu Utami saat ini sudah diterjemahkan ke beberapa bahasa asing seperti Inggris, Prancis dan Jerman. Sedang ”Cantik Itu Luka” karya Eka Kurniawan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Di belakang mereka berbaris sastrawan-sastrawan muda yang tak kalah kemampuannya, antara lain Jenar Mahesa Ayu, Dewi Lestari, Fira Basuki, Nova Riyanti Yusuf, dan masih banyak lagi.
Kembali ke topik kita, bagaimana mengapresiasikan sastra, saya berpendapat ini bukanlah pekerjaan pribadi, melainkan pe-er bagi pemerintah, masyarakat dan sastrawan itu sendiri. Pemerintah terutama departemen pendidikan harus menyusun ulang kurikulum yang bisa menunjang kemampuan sastra, terutama untuk pendidikan dasar dan menengah. Meski sastra bukan segalanya, setidaknya dengan sastra kita bisa mendidik anak-anak muda berbudaya. Dengan sastra, anak-anak muda itu diharapkan bisa menyalurkan energi mereka, minat dan bakat mereka. Sehingga di masa depan tidak kita jumpai lagi anak-anak yang melakukan hal-hal negatif, hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan manusia yang berbudaya. Percayalah, sastra sebagai bagian dari seni dan budaya memiliki pengaruh terhadap perkembangan kepribadian dan akhlak anak muda, selain agama tentunya.
Mengapresiasikan sastra juga tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan membaca. Disinilah masyarakat diharapkan berperan serta. Kecenderungan dimana Tivi menjadi pusat hiburan dan informasi harus kita minimalisir. Sebaliknya, kecenderungan membaca harus dimaksimalisir. Orang yang suka membaca, biasanya jauh lebih berwawasan dan lebih arif ketimbang orang yang suka menonton Tivi. Karena disaat membaca, otak kita juga dituntut menelaah, memilah dan menganalisa. Sedang saat kita menonton, kita cenderung malas dan menerima begitu saja segala fakta. Tak heran masyarakat sekarang cenderung agresif dan berpikiran sempit, karena kebiasaan menonton tivi telah berurat berakar dalam keseharian mereka.
Terakhir, sastrawan dengan komunitasnya diharapkan mampu menjembatani antara sastra, budaya, seni, politik dan kehidupan masyarakat dengan segala tetek bengeknya. Karena sebagai bagian dari masyarakat, sastrawan tidak bisa hidup dalam dunianya sendiri. Jadi kesan bahwa sastrawan itu bersifat egosentris, introvert dan antisosial harus bisa kita kikis dengan cara lebih bersosialisasi.
Sama sekali tidak ada maksud menggurui dalam tulisan ini. Karenanya jika ada pihak yang tersinggung, saya memohon maaf dengan rendah hati.
Dumai, 20 February 2008
Wetry Febrina adalah novelis, cerpenis sekaligus dosen sebuah PTS di Dumai. Bisa dihubungi lewat email wetry_14@yahoo.com
Dimuat di Riau Pos edisi Ahad 24 February 2008
BAGAIMANA MENGAPRESIASIKAN SASTRA
Oleh : Wetry Febrina*)
Jika boleh mengutip kata-kata Aristoteles, “Sastra adalah jalan menuju kebenaran setelah wahyu, filsafat dan ilmu pengetahuan,” saya merasa bahwa sastra tidak lain merupakan bagian seni yang termarjinalkan. Taruhlah itu hanya pendapat seorang Aristoteles, yang belum tentu mewakili pendapat publik. Sudah syukur Aristoteles mau mengakui adanya wahyu (agama), ilmu pengetahuan dan sastra, karena kebanyakan filsuf beranggapan bahwa filsafatlah yang paling tepat untuk mencari jalan kebenaran.
Aristoteles hanyalah seseorang yang hidup di masa lalu, tapi entah kenapa kutipan kata-katanya itu menimbulkan keresahan kepada saya sampai sekarang. Apa benar bahwa posisi sastra adalah di belakang wahyu, filsafat dan ilmu pengetahuan?
Coba kita lihat kondisi dunia sastra di Indonesia pada masa sekarang. Seberapa banyak sih orangtua yang mengarahkan anaknya menjadi pengarang ketimbang menjadi dokter atau insinyur misalnya? Di perguruan-perguruan tinggi, mahasiswa fakultas sastra sering dipandang sebagai warga kelas dua. Di pergaulan masyarakat, profesi penulis atau penyair sering dianggap pekerjaan sambilan. Sehingga jika ada seseorang yang dengan lantang menyebut profesinya penulis, masyarakat sekitarnya akan mengatakannya sebagai seseorang yang tidak memiliki pekerjaan, alias pengangguran!
Miris. Dan mau tak mau mengingatkan saya pada beberapa sastrawan besar yang sampai sekarang hidupnya masih berkekurangan. Kemana-mana naik bis dan kereta, masih tinggal di rumah kontrakan dan sering kekurangan uang. Sebagian dari mereka berbesar hati menganggap bahwa itu adalah harga yang pantas untuk sebuah totalisme. Tapi saya yang berkecil hati ini menganggap, betapa rendahnya penghargaan pemerintah dan masyarakat terhadap profesi sastrawan.
Pada Sabtu (16/2) kemaren saya berkesempatan menghadiri acara ulang tahun sebuah milis sastra di Jakarta. Acara yang digagas dengan konsep ’dari kita untuk kita’ ini sukses mempertemukan dua kubu : senior dan junior, penyair dan penulis, idola dan penggemar, tua dan muda, dan lain sebagainya. Berbagai antraksi menarik juga disuguhkan. Antara lain monolog ’Tragedy Apel Newton” oleh Danarto, pembacaan cerpen oleh Hamsad Rangkuti, monolog’Cantik Itu Luka’ karya Eka Kurniawan, pembacaan puisi, teater dan lain sebagainya. Karena anggota milis ini kebanyakan adalah penyair dan penulis, maka apresiasi mereka terhadap sastra kiranya tak bisa diragukan lagi. Maka beberapa jam pertama atmosfir sastra yang menguar disana benar-benar saya nikmati.
Tapi kondisinya berbeda saat sebuah kelompok teater mahasiswa di Jakarta bersiap-siap tampil membawakan ’Perempuan Kembang Jepun’ karya Lan Fang. Atmosfir sastra disana sedikit berubah seiring hadirnya beberapa anak muda (mahasiswa) yang ingin menyaksikan penampilan. Saya yang duduk nyempil di pojok, dekat sekali dengan mereka, mau tak mau terusik dengan celetukan dan komentar yang mencerminkan betapa miskinnya apresiasi anak muda terhadap sastra. Okelah, anak-anak muda itu datang untuk melihat penampilan teman-teman mereka, bukan melihat penampilan para sastrawan senior sekelas Danarto dan Hamsad Rangkuti. Mereka bahkan tak kenal siapa itu Hamsad dan Danarto!
Lalu siapa yang salah dengan kondisi ini? Kurikulum pendidikan yang masih memarjinalkan sastra atau sastrawan itu sendiri? Sedih mengingat bahwa anak-anak muda luar negeri antusias membaca karya Pramudya, sedang anak muda di Indonesia balik bertanya, ”Pramudya siapa sih?” Disaat anak-anak sekolahan di luar negeri aktif menelaah karya-karya Shakespeare, Tolstoy dan Kafka, anak-anak sekolahan disini masih saja dicekoki apa perbedaan antara angkatan Pujangga Baru dengan Balai Pustaka. Lebih parahnya lagi soal-soal ujian yang menanyakan hal-hal sepele, seperti dimana Chairil Anwar lahir atau tanggal berapa Marah Rusli lahir. Benar-benar miris...
Tak heran jika perkembangan sastra di tanah air cenderung jalan di tempat. Kalaupun ada beberapa sastrawan muda yang menggebrak, tapi jumlah mereka masih sangat sedikit. Padahal seiring dengan berakhirnya era orde baru diharapkan dunia sastra akan menemukan jalan pembebasan. Karya sastra yang bebas dari segala intimidasi dan campur tangan pemerintah, sastrawan yang bebas menulis tanpa harus gelisah bakal menghadapi nasib seperti Pram : dipenjara tanpa alasan yang jelas. Tapi kenyataannya, momen bagus ini masih sangat sedikit dimamfaatkan. Apa karena sastrawan-sastrawan tua masih sulit membebaskan imajinasi mereka, atau karena sastrawan-sastrawan muda belum bisa mengasah kemampuan dan pengalaman mereka, atau mungkin karena perpaduan sebab keduanya. Entahlah.
Beberapa sastrawan muda yang menemukan jalan kebebasannya setelah orde baru diharapkan bisa menjadi pembuka jalan bagi sastrawan muda lainnya. Diantaranya yang bisa kita jadikan role model adalah Ayu Utami dengan Saman-nya dan Eka Kurniawan dengan Cantik Itu Luka-nya. ”Saman” karya Ayu Utami saat ini sudah diterjemahkan ke beberapa bahasa asing seperti Inggris, Prancis dan Jerman. Sedang ”Cantik Itu Luka” karya Eka Kurniawan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Di belakang mereka berbaris sastrawan-sastrawan muda yang tak kalah kemampuannya, antara lain Jenar Mahesa Ayu, Dewi Lestari, Fira Basuki, Nova Riyanti Yusuf, dan masih banyak lagi.
Kembali ke topik kita, bagaimana mengapresiasikan sastra, saya berpendapat ini bukanlah pekerjaan pribadi, melainkan pe-er bagi pemerintah, masyarakat dan sastrawan itu sendiri. Pemerintah terutama departemen pendidikan harus menyusun ulang kurikulum yang bisa menunjang kemampuan sastra, terutama untuk pendidikan dasar dan menengah. Meski sastra bukan segalanya, setidaknya dengan sastra kita bisa mendidik anak-anak muda berbudaya. Dengan sastra, anak-anak muda itu diharapkan bisa menyalurkan energi mereka, minat dan bakat mereka. Sehingga di masa depan tidak kita jumpai lagi anak-anak yang melakukan hal-hal negatif, hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan manusia yang berbudaya. Percayalah, sastra sebagai bagian dari seni dan budaya memiliki pengaruh terhadap perkembangan kepribadian dan akhlak anak muda, selain agama tentunya.
Mengapresiasikan sastra juga tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan membaca. Disinilah masyarakat diharapkan berperan serta. Kecenderungan dimana Tivi menjadi pusat hiburan dan informasi harus kita minimalisir. Sebaliknya, kecenderungan membaca harus dimaksimalisir. Orang yang suka membaca, biasanya jauh lebih berwawasan dan lebih arif ketimbang orang yang suka menonton Tivi. Karena disaat membaca, otak kita juga dituntut menelaah, memilah dan menganalisa. Sedang saat kita menonton, kita cenderung malas dan menerima begitu saja segala fakta. Tak heran masyarakat sekarang cenderung agresif dan berpikiran sempit, karena kebiasaan menonton tivi telah berurat berakar dalam keseharian mereka.
Terakhir, sastrawan dengan komunitasnya diharapkan mampu menjembatani antara sastra, budaya, seni, politik dan kehidupan masyarakat dengan segala tetek bengeknya. Karena sebagai bagian dari masyarakat, sastrawan tidak bisa hidup dalam dunianya sendiri. Jadi kesan bahwa sastrawan itu bersifat egosentris, introvert dan antisosial harus bisa kita kikis dengan cara lebih bersosialisasi.
Sama sekali tidak ada maksud menggurui dalam tulisan ini. Karenanya jika ada pihak yang tersinggung, saya memohon maaf dengan rendah hati.
Dumai, 20 February 2008
Wetry Febrina adalah novelis, cerpenis sekaligus dosen sebuah PTS di Dumai. Bisa dihubungi lewat email wetry_14@yahoo.com
Langganan:
Komentar (Atom)