Essay Budaya
Dimuat di Riau Pos edisi Ahad 24 February 2008
BAGAIMANA MENGAPRESIASIKAN SASTRA
Oleh : Wetry Febrina*)
Jika boleh mengutip kata-kata Aristoteles, “Sastra adalah jalan menuju kebenaran setelah wahyu, filsafat dan ilmu pengetahuan,” saya merasa bahwa sastra tidak lain merupakan bagian seni yang termarjinalkan. Taruhlah itu hanya pendapat seorang Aristoteles, yang belum tentu mewakili pendapat publik. Sudah syukur Aristoteles mau mengakui adanya wahyu (agama), ilmu pengetahuan dan sastra, karena kebanyakan filsuf beranggapan bahwa filsafatlah yang paling tepat untuk mencari jalan kebenaran.
Aristoteles hanyalah seseorang yang hidup di masa lalu, tapi entah kenapa kutipan kata-katanya itu menimbulkan keresahan kepada saya sampai sekarang. Apa benar bahwa posisi sastra adalah di belakang wahyu, filsafat dan ilmu pengetahuan?
Coba kita lihat kondisi dunia sastra di Indonesia pada masa sekarang. Seberapa banyak sih orangtua yang mengarahkan anaknya menjadi pengarang ketimbang menjadi dokter atau insinyur misalnya? Di perguruan-perguruan tinggi, mahasiswa fakultas sastra sering dipandang sebagai warga kelas dua. Di pergaulan masyarakat, profesi penulis atau penyair sering dianggap pekerjaan sambilan. Sehingga jika ada seseorang yang dengan lantang menyebut profesinya penulis, masyarakat sekitarnya akan mengatakannya sebagai seseorang yang tidak memiliki pekerjaan, alias pengangguran!
Miris. Dan mau tak mau mengingatkan saya pada beberapa sastrawan besar yang sampai sekarang hidupnya masih berkekurangan. Kemana-mana naik bis dan kereta, masih tinggal di rumah kontrakan dan sering kekurangan uang. Sebagian dari mereka berbesar hati menganggap bahwa itu adalah harga yang pantas untuk sebuah totalisme. Tapi saya yang berkecil hati ini menganggap, betapa rendahnya penghargaan pemerintah dan masyarakat terhadap profesi sastrawan.
Pada Sabtu (16/2) kemaren saya berkesempatan menghadiri acara ulang tahun sebuah milis sastra di Jakarta. Acara yang digagas dengan konsep ’dari kita untuk kita’ ini sukses mempertemukan dua kubu : senior dan junior, penyair dan penulis, idola dan penggemar, tua dan muda, dan lain sebagainya. Berbagai antraksi menarik juga disuguhkan. Antara lain monolog ’Tragedy Apel Newton” oleh Danarto, pembacaan cerpen oleh Hamsad Rangkuti, monolog’Cantik Itu Luka’ karya Eka Kurniawan, pembacaan puisi, teater dan lain sebagainya. Karena anggota milis ini kebanyakan adalah penyair dan penulis, maka apresiasi mereka terhadap sastra kiranya tak bisa diragukan lagi. Maka beberapa jam pertama atmosfir sastra yang menguar disana benar-benar saya nikmati.
Tapi kondisinya berbeda saat sebuah kelompok teater mahasiswa di Jakarta bersiap-siap tampil membawakan ’Perempuan Kembang Jepun’ karya Lan Fang. Atmosfir sastra disana sedikit berubah seiring hadirnya beberapa anak muda (mahasiswa) yang ingin menyaksikan penampilan. Saya yang duduk nyempil di pojok, dekat sekali dengan mereka, mau tak mau terusik dengan celetukan dan komentar yang mencerminkan betapa miskinnya apresiasi anak muda terhadap sastra. Okelah, anak-anak muda itu datang untuk melihat penampilan teman-teman mereka, bukan melihat penampilan para sastrawan senior sekelas Danarto dan Hamsad Rangkuti. Mereka bahkan tak kenal siapa itu Hamsad dan Danarto!
Lalu siapa yang salah dengan kondisi ini? Kurikulum pendidikan yang masih memarjinalkan sastra atau sastrawan itu sendiri? Sedih mengingat bahwa anak-anak muda luar negeri antusias membaca karya Pramudya, sedang anak muda di Indonesia balik bertanya, ”Pramudya siapa sih?” Disaat anak-anak sekolahan di luar negeri aktif menelaah karya-karya Shakespeare, Tolstoy dan Kafka, anak-anak sekolahan disini masih saja dicekoki apa perbedaan antara angkatan Pujangga Baru dengan Balai Pustaka. Lebih parahnya lagi soal-soal ujian yang menanyakan hal-hal sepele, seperti dimana Chairil Anwar lahir atau tanggal berapa Marah Rusli lahir. Benar-benar miris...
Tak heran jika perkembangan sastra di tanah air cenderung jalan di tempat. Kalaupun ada beberapa sastrawan muda yang menggebrak, tapi jumlah mereka masih sangat sedikit. Padahal seiring dengan berakhirnya era orde baru diharapkan dunia sastra akan menemukan jalan pembebasan. Karya sastra yang bebas dari segala intimidasi dan campur tangan pemerintah, sastrawan yang bebas menulis tanpa harus gelisah bakal menghadapi nasib seperti Pram : dipenjara tanpa alasan yang jelas. Tapi kenyataannya, momen bagus ini masih sangat sedikit dimamfaatkan. Apa karena sastrawan-sastrawan tua masih sulit membebaskan imajinasi mereka, atau karena sastrawan-sastrawan muda belum bisa mengasah kemampuan dan pengalaman mereka, atau mungkin karena perpaduan sebab keduanya. Entahlah.
Beberapa sastrawan muda yang menemukan jalan kebebasannya setelah orde baru diharapkan bisa menjadi pembuka jalan bagi sastrawan muda lainnya. Diantaranya yang bisa kita jadikan role model adalah Ayu Utami dengan Saman-nya dan Eka Kurniawan dengan Cantik Itu Luka-nya. ”Saman” karya Ayu Utami saat ini sudah diterjemahkan ke beberapa bahasa asing seperti Inggris, Prancis dan Jerman. Sedang ”Cantik Itu Luka” karya Eka Kurniawan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Di belakang mereka berbaris sastrawan-sastrawan muda yang tak kalah kemampuannya, antara lain Jenar Mahesa Ayu, Dewi Lestari, Fira Basuki, Nova Riyanti Yusuf, dan masih banyak lagi.
Kembali ke topik kita, bagaimana mengapresiasikan sastra, saya berpendapat ini bukanlah pekerjaan pribadi, melainkan pe-er bagi pemerintah, masyarakat dan sastrawan itu sendiri. Pemerintah terutama departemen pendidikan harus menyusun ulang kurikulum yang bisa menunjang kemampuan sastra, terutama untuk pendidikan dasar dan menengah. Meski sastra bukan segalanya, setidaknya dengan sastra kita bisa mendidik anak-anak muda berbudaya. Dengan sastra, anak-anak muda itu diharapkan bisa menyalurkan energi mereka, minat dan bakat mereka. Sehingga di masa depan tidak kita jumpai lagi anak-anak yang melakukan hal-hal negatif, hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan manusia yang berbudaya. Percayalah, sastra sebagai bagian dari seni dan budaya memiliki pengaruh terhadap perkembangan kepribadian dan akhlak anak muda, selain agama tentunya.
Mengapresiasikan sastra juga tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan membaca. Disinilah masyarakat diharapkan berperan serta. Kecenderungan dimana Tivi menjadi pusat hiburan dan informasi harus kita minimalisir. Sebaliknya, kecenderungan membaca harus dimaksimalisir. Orang yang suka membaca, biasanya jauh lebih berwawasan dan lebih arif ketimbang orang yang suka menonton Tivi. Karena disaat membaca, otak kita juga dituntut menelaah, memilah dan menganalisa. Sedang saat kita menonton, kita cenderung malas dan menerima begitu saja segala fakta. Tak heran masyarakat sekarang cenderung agresif dan berpikiran sempit, karena kebiasaan menonton tivi telah berurat berakar dalam keseharian mereka.
Terakhir, sastrawan dengan komunitasnya diharapkan mampu menjembatani antara sastra, budaya, seni, politik dan kehidupan masyarakat dengan segala tetek bengeknya. Karena sebagai bagian dari masyarakat, sastrawan tidak bisa hidup dalam dunianya sendiri. Jadi kesan bahwa sastrawan itu bersifat egosentris, introvert dan antisosial harus bisa kita kikis dengan cara lebih bersosialisasi.
Sama sekali tidak ada maksud menggurui dalam tulisan ini. Karenanya jika ada pihak yang tersinggung, saya memohon maaf dengan rendah hati.
Dumai, 20 February 2008
Wetry Febrina adalah novelis, cerpenis sekaligus dosen sebuah PTS di Dumai. Bisa dihubungi lewat email wetry_14@yahoo.com
Maret 25, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar