Pengikut

Maret 30, 2008

COBAAN

Juara I LKT MUI Bengkalis 2008

Magrib.
Azab mengalun mendayu-dayu, terbawa angin sampai ke pelabuhan, kebun sawit, bukit-bukit, menelusup ke kampung-kampung, rumah-rumah, ke telinga Ustad Suman. Tapi lelaki setengah baya itu tetap bergeming, tetap larut dalam pemikiran, mengisap rokok kretek di tangannya tak putus-putus. Wajahnya kalut.
“Tak ke mesjid, Bang?” Mak Saidah, istri Ustad Suman memberanikan diri menegur, demi melihat tak ada juga tanda-tanda suaminya akan bangkit menunaikan sholat Magrib. Mak Saidah sendiri sudah memakai telekung putih, siap-siap berangkat untuk sholat berjemaah ke mesjid.
“Tak lah,” Ustad Suman menggeleng. “Kau pergi sendiri saja. Biar aku sholat di rumah.” Itu pun kalau pikiranku lapang, sambung Ustad Suman dalam hati. Apa gunanya sholat tunggang tunggik kalau pikiran kusut? Bukannya dapat pahala, malah dapat murka.
“Pergilah, Bang,” Mak Saidah mendesak. “Sudah hampir sebulan Abang tak ke mesjid. Makin bertanya-tanya orang kampung. Biasanya menjadi imam dan memberi ceramah, tapi kini mendadak hilang. Segan aku, Bang.”
“Malu aku, Dah,” Ustad Suman menghela nafas. “Tak sanggup lagi kupandang muka orang.”
“Nasi sudah menjadi bubur, Bang. Si Atikah pun sudah kita nikahkan.”
“Tapi arang yang tercoreng di keningku ini tak bisa hilang. Percuma saja aku menceramahi orang tapi anakku sendiri tak bisa kubina.”
“Sudahlah, Bang.”
Ustad Suman menggeleng sedih. Keperihan merambati hatinya mengingat prahara yang menimpa keluarganya belakangan ini……..

Sebagai seorang Ustad, Ustad Suman sangat dihormati di lingkungan tempat tinggalnya. Tempat bertanya orang kampung, mulai dari urusan agama sampai urusan sehari-hari. Di kampung kecil itu, suasana sangatlah islami. Mesjid yang berdiri di tengah kampung selalu sesak sedari Magrib sampai Isya. Disitulah Ustad Suman biasa memberi ceramah agama dan mengajar mengaji.
Meski berpenghidupan sederhana sebagai guru Tsanawiyah, Ustad Suman tetap giat dan ulet. Lebih sepuluh tahun lamanya dia anak beranak hidup dalam keprihatinan, demi mencicil pembelian beberapa hektar kebun sawit.
“Buat bekal kuliah Atikah dan Fadli,” demikian Ustad Suman berujar pada istrinya. “Pandai-pandailah dulu kau mengatur uang belanja beberapa tahun ini. Kelak jika sawit sudah berbuah, barulah kita bisa lapang sedikit.”
Sebagai seorang istri, Mak Saidah sangatlah penyabar. Padahal berapalah gaji seorang guru MTs Swasta? Tidak berutang saja, gaji suaminya pas-pasan sekali buat biaya hidup mereka berempat anak beranak. Apalagi sekarang dipotong cicilan kredit bank yang hampir separuh gaji.
“Allah tak akan merubah nasib suatu kaum, kalau kaum itu tidak bisa merubah nasibnya sendiri,” demikian Ustad Suman memberi ceramah di mesjid.
“Kalau tidak dikuat-kuatkan, tak akan berubah nasib kami,” kata Ustad Suman pada rekannya sesama guru di MTs. “Demi kuliah anak-anak, makanya aku nekad berutang untuk membeli kebun sawit. Demi masa depan, maka kulepas anak-anakku kelak kuliah di luar Bengkalis. Anak-anak kampung disini, rata-rata sekolah cuma sampai MTs. Setelah itu menjadi petani. Pantas kampung kita begini-begini saja, karena tak ada pemudanya yang menuntut ilmu sampai perguruan tinggi.”
Kini sepuluh tahun sudah berlalu. Kebun sawit Ustad Suman sudah berbuah. Hutangnya pun sudah lama lunas. Penghidupan keluarga itu pun sudah jauh berubah. Tak ada lagi rumah sederhana berdinding papan, sudah berganti rumah tembok yang lebih megah. Tak ada juga sepeda motor tua di halaman, berganti dua mobil sedan. Satu dipakai Ustad Suman ke sekolah, satu lagi dipakai Fadli yang kini sudah SMA.
Ustad Suman sudah lupa dia pernah memberi ceramah, “Hiduplah sederhana seperti junjungan kita Nabi Muhammad. Karena Allah membenci segala sesuatu yang berlebih-lebihan.”
Sekarang Ustad Suman sendiri yang berlebih-lebihan. Pergi ke mesjid saja yang cuma beberapa ratus meter dari rumahnya, dia masih juga memakai sedan.
Betapa sulitnya mengaktualisasikan ajaran Nabi Muhammad pada kehidupannya sekarang. Anak-anaknya pun setali tiga uang. Si Fadli yang biasanya tiap malam rajin ke mesjid, sejak punya mobil sekarang lebih suka keluyuran. Si Atikah yang sekarang kuliah di Pekanbaru pun sudah lama tanggal jilbabnya. Alasannya, “Kalau pakai jilbab, susah mencari kerja. Apalagi aku kuliah di jurusan Perbankan yang suatu saat akan bekerja di Bank.”
Hanya Mak Saidah yang tidak berubah. Tapi perempuan itu pun tidak berdaya menegur suami dan anak-anaknya yang mulai melenceng dan salah jalan.
Pernah suatu waktu Mak Saidah pergi ke Pekanbaru mengunjungi Atikah. Nyaris copot jantung perempuan itu mendapati puntung rokok berserakan di kamar kos anak gadisnya. Atikah sendiri sama sekali tidak merasa bersalah, santai saja merokok di hadapan ibunya.
“Jaman sudah modern, Mak,” demikian Atikah menceramahi ibunya. “Perempuan merokok sudah biasa. Si Fadli bahkan lebih dari itu. Waktu pulang ke Bengkalis bulan lalu, aku mendapati pil narkoba di kamarnya.”
Panas dingin rasa badan Mak Saidah demi melihat perangai anak-anaknya. Perempuan itu hanya bisa mencucurkan air mata, memohon ampunan kepada Allah. Sungguh perempuan itu tak mengerti, kenapa justru semakin modern jaman semakin jahiliyah kelakuan anak-anaknya.
“Cobaan itu tidak hanya berupa kemiskinan, tapi juga bisa berupa kekayaan,” demikian Mak Saidah pernah mendengar. Dan memang sekarang keluarga mereka sedang dicoba dengan kilauan harta permata, dengan hingar bingar kehidupan modern. Hanya demi tidak dibilang kampungan, melenceng sudah dari ajaran Nabi. Anak-anak Mak Saidah yang masih remaja tidak mampu bertahan terhadap cobaan harta dan modernitas. Dimulai dari Fadli yang menjadi pencandu narkoba, hingga si Atikah yang akhirnya hamil di luar nikah.
Malu.
Aib.
Sebenarnya Mak Saidah sudah hilang akal, tak tahu lagi kemana menyurukkan muka. Tapi disabar-sabarkannya juga supaya tidak ambruk mereka anak beranak. Sementara Ustad Suman, suaminya lebih memilih menyembunyikan diri di rumah. Mengajar di MTs pun sudah berhenti. Alasannya ingin menyembunyikan kening yang tercoreng arang, tapi sampai kapan?
Terpaksa Mak Saidah sendirian pontang-panting memberesi segala urusan. Mulai dari mengirim si Fadli ke panti rehabilitasi narkoba, sampai mengurus pernikahan Atikah. Ustad Suman hanya menonton saja sambil berkeluh kesah.
“Aku letih menanggung malu, Dah. Apa tidak sebaiknya kita pindah saja ke Pekanbaru?” usul Ustad Suman sambil menerawang.
“Hidup dimana saja sama lah, Bang. Sedang di kampung kecil ini saja kita sudah kalah terhadap godaan jaman, apa lagi di kota besar? Istigfar, Bang. Mohon ampun kepada Allah. Dan mari kita kembali ke kehidupan kita yang lama. Saat semuanya sangat sederhana tapi kita bahagia.”
Ustad Suman tidak menjawab. Matanya menerawang menembus senja yang makin gelap. Sudah sebulan dia tak pernah lagi sholat Magrib.

Subuh.
Azan mengalun mendayu-dayu, terbawa angin ke pelabuhan, ke kampung-kampung, ke pucuk sawit, ke atap rumah, ke telinga Ustad Suman. Tapi tak mampu membangunkan lelaki itu dari tidurnya yang lelap.
“Dug! Dug! Dug!” ketukan keras di pintu yang akhirnya membuatnya tersentak. Mak Saidah yang baru saja hendak sholat subuh tak kurang terkejutnya. Siapa gerangan yang bertamu subuh-subuh begini?
“Aku, Mak! Udin!” teriak orang di balik pintu.
Mak Saidah bergegas membuka pintu. “Oh kau, Din. Apa gerangan kabar kau datang subuh-subuh begini?”
Ustad Suman keluar kamar dengan rambut masai dan mata merah, “Kenapa, Din?”
“Celaka, Ustad. Api merambat sampai ke kebun,” ujar Udin tersenggal-senggal. “Kebakaran hutan dan lahan sampai juga ke kebun kita, Ustad. Tak sanggup aku dan Anto memadamkan api. Amanat Ustad kepada kami sebagai penjaga kebun, tak sanggup lagi kami pikul. Ini sudah diluar kuasa kami, Ustad.”
“Astagfirullah, “ Mak Saidah mengurut dada.
Ustad Suman terperosok di lantai. Lemas sudah lutut-lututnya.
“Habis, Din?” tanyanya dengan bibir gemetar. “Habis terbakar semua?”
Udin tak sempat menjawab. Mak Saidah menjerit, demi melihat Ustad Suman yang membekap dadanya.
“Kenapa Bang?!! Abang!!”
“Sepertinya kena serangan jantung, Mak!” teriak Udin tak kalah panik.

Dumai, Maret 2008.

Tidak ada komentar: