Pengikut

Oktober 09, 2008

Bekas Bibirmu di Cangkir Kopiku

Sajak
Riau Pos Ahad 14 sept 2008

Kau serupa waktu
yang memenjaraku dengan sesuatu yang berulang
dan yang tak akan pernah terulang

Saat kita bersandar di kursi merah hati itu
Saling mencuri pandang dalam keremangan
Aku merasa ada sesuatu yang hilang dari dadaku
Adakah hatiku yang kau curi itu?

Tapi kita terus berpura-pura memperhatikan penyanyi itu memainkan gitarnya
Dengan rambut gimbal seperti Bob Marley
Juga senyum kuda diwajahnya
O, bibirnya kelabu
Dirajam nikotin, juga kecupan
Dari gadis bar yang mengedip nakal

Anggur merah di meja sebelah
Serupa darah yang pernah mereka tumpahkan
Di kasur perawan

Dan kelam kopi di cangkirku
Merupa dosa silam
Yang terus memburuku ke masa depan

Seharusnya kita pulang saja waktu itu

Tapi bekas bibirmu di cangkir kopiku
Seperti waktu yang memenjara
Membuatku tersengat kenangan
Dan merungsingkan sekerat hatiku yang hilang
Kau yang mencurinya semalam?
Ruang Lengang, Mei 08



Seperih Puisi

/1/
Perih yang berkecamuk ini
Adalah lorong paling sempit dari sebuah jalan
/2/
Gelisah yang membuncah ini
Adalah lolong paling mengiba dari sebuah malam
/3/
Dan sepi yang membunuh ini
Adalah dasar paling kelam dari sebuah jurang
/4/
Kemana hendak membawa diri?
Aku terbantun-bantun di sisi paling tajam sebuah karang
/5/
Dan kemana mesti mengobati hati?
Yang terlanjur dirusak kisah cinta paling hampa sepanjang jaman

Dumai, April 2008

Sesuatu yang Bertahta di Lengkung Alismu

Kembang kuncup ini, seumpama asa yang lunglai
Menengadah memohon belasmu, O Tuan penyamun hati
Bibir yang kering ini, seumpama cinta tak sampai
Menadah memohon kecupmu, O Tuan penyemat mimpi

Seumpama gerinda mengamplas batu, ngilu berderai di belulangku
Seumpama ngilu yang abadi di hatiku, kau rajam aku dengan matamu
Fatamorgana kekal di padang kerontang, O, adakah oase disitu?
Ataukah hanya riak yang bertahta di kolam matamu?

Sesuatu yang bertahta di lengkung alismu, adalah serpih jantungku
Dan sesuatu yang menghempas di matamu, adalah buih ombak sebakku.

Juni 07, 2008

K ENAIKAN HARGA BBM VS EFISIENSI ENERGI

Keputusan pemerintah untuk menaikkan harga BBM sebesar 28,7% sepertinya sudah final dan tidak bisa lagi ditawar. Sebaliknya, mekanisme pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai social buffer sampai saat ini masih saja menimbulkan kontroversi. Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai badan yang berurusan dengan angka-angka termasuk angka jumlah penduduk miskin di Indonesia dinilai gagal memberikan informasi yang akurat. Akibatnya terjadi disparitas antara BLT yang dianggarkan oleh pemerintah dengan BLT yang seharusnya dibayarkan ke masyarakat. Disparitas tersebut dikhawatirkan akan menyebabkan kekacauan di beberapa daerah.
Disparitas jumlah penduduk miskin salah satunya disebabkan oleh perbedaan tolok ukur pendapatan per orang untuk bisa dikelompokkan dalam kategori miskin. Menurut BPS, orang miskin adalah mereka yang pendapatan hariannya tidak lebih dari Rp 5.500 atau Rp. 166.687 perbulan (2007). Berdasarkan ukuran ini jumlah penduduk miskin mencapai hampir 25% dari jumlah penduduk Indonesia. Sedangkan menurut versi lain, orang miskin adalah mereka yang pendapatan hariannya tidak lebih dari 1 dollar AS atau sekitar 270.000 perbulan. Kalau memakai ukuran ini tentunya jumlah penduduk miskin di Indonesia akan jauh lebih besar lagi. Hal ini selain sangat mengerikan juga menggambarkan betapa rendahnya laju perekonomian rakyat di tanah air.
Berdasarkan data BPS tahun 2005, jumlah sasaran BLT mencapai 19,1 juta keluarga. Jika diasumsikan satu keluarga minimal terdiri dari empat anggota keluarga, maka jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 76,4 juta jiwa. Ini bukan angka yang main-main. Jumlah penduduk miskin di Indonesia bahkan melebihi dua kali lipat jumlah penduduk Malaysia!
Dilain pihak, kenaikan harga BBM di awal dan di penghujung masa tugas Susilo Bambang Yudoyono-Jusuf Kalla bukanlah suatu keputusan yang populer. Dan dikhawatirkan hal ini akan menurunkan minat masyarakat untuk kembali memilih SBY pada pemilu tahun 2010 mendatang. Jika SBY sampai berani mengambil langkah ini, tentunya beliau sudah mempertimbangkan bahwa hal ini adalah langkah yang terbaik dari yang terburuk. Resesi ekonomi diseluruh dunia tidak hanya menimbulkan gejolak harga tapi juga diperburuk oleh kelangkaan pangan. Jika tidak ada langkah pengendalian situasi oleh pemerintah, dikhawatirkan Indonesia akan kembali keterpurukan seperti yang terjadi sepuluh tahun silam.
Sebenarnya kisruh masalah kenaikan harga BBM bisa diantisipasi dari awal seandainya antara pemerintah, swasta dan masyarakat terjadi kerja sama yang harmonis. Penggunaan data tahun 2005 untuk penyaluran BLT tahun 2008 jelas menunjukkan ketidaksiapan pemerintah. Untuk penyaluran BLT tahun 2005 saja, BPS memerlukan waktu kurang lebih 4 bulan untuk mendata jumlah keluarga miskin. Itu pun masih mengalami kebocoran sebesar 5,83%. Sepertinya pemerintah masih berharap terjadinya penurunan harga minyak dipasaran internasional sehingga tidak mempersiapkan diri untuk penyaluran BLT. Sementara harga minyak terus merangkak naik membuat pemerintah tidak punya pilihan lain selain menaikkan harga BBM. Sehingga terjadilah penyaluran BLT yang terkesan terburu-buru dan tidak dipersiapkan dengan baik.
Keyakinan pemerintah bahwa sebagian besar subsidi BBM justru dinikmati orang-orang kaya mungkin bisa ditanggulangi dengan cara menaikkan pendapatan dari pajak penghasilan, pajak usaha, pajak pertambahan nilai dan pajak pembelian barang mewah. Pemerintah juga bisa melakukan penghematan belanja negara, terutama untuk pengeluaran-pengeluaran yang sifatnya tidak penting. Misalnya dengan mengurangi gaji anggota DPR dan segala macam tunjangan dan fasilitasnya.
Swasta sangat berperan dalam peningkatan daya beli masyarakat. Golongan pengusaha diharapkan lebih memperhatikan tingkat kesejahteraan pekerjanya dengan memberikan upah sesuai dengan standard Upah Minimum Regional (UMR) untuk masing-masing daerah. Kelangkaan BBM untuk keperluan industri harus disiasati dengan melakukan penghematan, pengefisienan dan pengembangan sumber energi alternatif.
Sementara masyarakat sebagai pihak yang terkena dampak langsung kenaikan harga BBM seharusnya bisa menyikapi permasalahan ini secara lebih arif dan bijaksana. Kenaikan harga BBM tidak seharusnya ditanggapi dengan mengeluh, berdemo dan menghujat pemerintah, apalagi sampai melakukan aksi anarkis seperti perusakan fasilitas negara. Kesediaan pemerintah untuk memberikan Bantuan Langsung Tunai seharusnya kita terima dengan senang hati. Disaat gonjang-ganjing ekonomi seperti sekarang ini, kenaikan harga BBM dalam negeri merupakan suatu pilihan yang susah untuk dielakkan. Dengan bersikap arif, setidaknya kita bisa membantu terciptanya kestabilan di bidang keamanan dan politik. Jangan sampai drama krisis moneter babak II berlangsung di negeri yang baru saja merayakan 100 tahun kebangkitan nasional ini.
Sebagai masyarakat seharusnya kita bisa berpartisipasi dengan cara melakukan efisiensi energi. Terutama dibidang energi listrik dan BBM. Beberapa program efisiensi yang bisa kita terapkan, antara lain :
Pertama, dengan mensosialisasikan penggunaan alat transportasi massa. Kenaikan harga penjualan sepeda motor maupun mobil di Indonesia memang sangat menguntungkan dari segi industri. Tapi jika dilihat dari segi lingkungan dan persediaan energi, fenomena ini justru merupakan suatu bumerang. Peningkatan jumlah pemakai kendaraan pribadi berbanding lurus dengan peningkatan kemacetan lalu lintas, pemborosan BBM dan peningkatan pelepasan emisi gas rumah kaca ke udara. Pemerintah dalam hal ini juga tidak bisa lepas tangan, melainkan harus lebih aktif dalam pengadaan sarana angkutan umum yang aman, nyaman dan ramah lingkungan. Pengoperasian bus Trans Jakarta dan Trans Yogyakarta sebagai langkah awal pengadaan sarana transportasi massa yang nyaman mungkin bisa dijadikan acuan. Tapi tentunya harus diiringi dengan penambahan jumlah armada sehingga tidak terjadi penumpukan penumpang. Pembangunan kereta api bawah tanah mungkin juga bisa dijadikan solusi. Begitu juga dengan pembangunan monorail, transportasi air dan jenis-jenis transportasi lainnya. Penerbangan untuk jarak dekat juga harus dikurangi karena selain boros BBM juga membahayakan lingkungan. Pemerintah daerah juga bisa membuat kebijakan sendiri yang mendukung pensosialisasian penggunaan alat transportasi massa di daerahnya masing-masing. Misalnya dengan cara menambah armada-armada angkutan umum yang lebih nyaman dan meningkatkan pajak kendaraan pribadi sehingga masyarakat lebih tertarik untuk menggunakan angkutan umum.
Kedua, memaksimalkan pemakaian energi alternatif yang murah dan ramah lingkungan. Misalnya dengan membangun panel-panel tenaga surya sebagai sumber energi di gedung-gedung perkantoran dan fasilitas umum. Sebagai negara tropis Indonesia sangat beruntung memiliki energi matahari yang melimpah. Pembangunan panel-panel surya awalnya memang cukup mahal, tapi dalam jangka panjang mampu menghemat pemakaian listrik dalam jumlah besar.
Ketiga dengan cara menghemat pemakaian listrik. Penggunaan lampu disiang hari bisa disiasati dengan rancangan arsitektur rumah yang hemat energi. Misalnya dengan pembuatan kubah kaca, taman dalam rumah dan cara-cara lainnya. Penggunaan alat listrik pada jam 17 sampai 22 harus dibatasi untuk mengurangi beban puncak pemakaian listrik. Penggunaan AC bisa diganti dengan membuat ventilasi yang cukup dan pemakaian kipas angin. Hindari juga membiarkan TV dan alat elektronik lainnya dalam posisi stand by.
Keempat, dengan lebih meminimalkan pemakaian mesin dalam kehidupan sehari-hari. Kalau biasanya tergantung pada mesin cuci, mulailah membiasakan diri mencuci dengan tangan. Ada baiknya juga mengurangi fungsi kulkas dan freezer dengan lebih rajin berbelanja kebutuhan sehari-hari di pasar. Efisiensi energi akan lebih mudah dicapai jika masyarakat menjauhkan diri dari kebiasaan konsumtif. Back to nature adalah pilihan sikap yang bijak jika kita ingin bumi ini berumur lebih panjang. Berjalan kaki dan bersepeda selain meningkatkan kebugaran juga sangat menghemat penggunaan BBM.
Langkah-langkah besar selalu diawali dengan langkah kecil. Untuk itu daripada berkeluh kesah dan mengumpat pemerintah, ada baiknya kita bercermin sejenak. Apakah kita sudah melakukan efisiensi energi dalam kehidupan kita berumah tangga dan bermasyarakat? Jika belum, mulailah sekarang. Tidak ada kata telambat untuk melakukan kebajikan.

Sastra Lokal, Antara Nasionalisme dan Rasialisme

Seberapa besar universalitas yang harus dikandung sastra lokal sehingga tidak dituduh terjebak dalam arus rasial? Apa patokannya untuk membedakan sastra lokal dengan sastra yang tidak lokal? Apa pula kaitannya dengan nasionalisme dan rasialisme?
Pertanyaan-pertanyaan itu terserak di kepala saya begitu membaca tanggapan Zelfeni Wimra (ZW) di Riau Pos (20/4/08) terhadap essay “Ihwal Regenerasi Sastra Riau” yang ditulis Marhalim Zaini (MZ) secara bersambung dua minggu berturut-turut di Riau Pos (23&30/3/08) dan tanggapan MZ terhadap tulisan ZW di Riau Pos (11/5/08).
Sama sekali tidak ingin memperkeruh suasana dengan menghadirkan essay ini paska “polemik” yang tercipta antara ZW dan MZ. Juga tidak ada maksud untuk berpihak ataupun menjadi penengah. Tulisan ini semata-mata hanya ingin melepaskan unek-unek di benak saya sehubungan dengan pertanyaan-pertanyaan diatas.
Saya pribadi sependapat dengan MZ bahwa ZW kemungkinan besar salah persepsi terhadap istilah sastra Riau yang digunakan MZ dalam essay tersebut. Dan saya juga yakin bahwa MZ sama sekali tidak bermaksud melabeli sastra dengan beban-beban lokalitas sebagaimana yang dituduhkan ZW. Meski demikian, apa buruknya embel-embel sastra Riau atau sastra Jawa atau sastra Minangkabau? Toh semuanya tetap bermuara pada satu sastra : sastra Indonesia. Ingat, Ajip Rosidi dengan Rancage Award berhasil mengangkat sastra Sunda ke kancah nasional tanpa takut diberi label sastrawan rasis. Begitupun Ahmad Tohari dengan trilogi Ronggeng Dukuh Paruknya yang sangat njawani. Juga ada Gus Tf yang sangat meMinang bahkan ada Lan Fang yang berani mengusung tradisi Tionghoa ke dalam prosa-prosanya. Apakah kita berhak melabeli mereka dengan kata ekslusif dan rasis sementara kita sendiri belum terlalu memahami makna nasionalis?
Disatu pihak, kehadiran polemik ini di tengah gencar-gencarnya peringatan seratus tahun Hari Kebangkitan Nasional menyadarkan kita bahwa masih banyak kepingan-kepingan hilang yang merusak makna kesatuan. Pun dalam sastra, jika makna lokalitas dalam keberagaman masih saja diterjemahkan dengan cara yang salah. Apa itu sastra lokal dan apa itu sastra nasional masih saja ditempatkan pada sudut pandang yang terpisah. Sehingga muncullah sebutan ekslusif, rasis dan tidak nasionalis yang sebenarnya tidak perlu.

Kita mungkin lupa bahwa yang dimaksud dengan karya sastra nasional adalah kumpulan dari keseluruhan karya sastra yang ditulis sastrawan-sastrawan Indonesia, lengkap dengan segala keberanekaragamannya. Bahasa, setting lokasi dan waktu, plot, gaya penceritaan dan sebagainya mungkin hanya sebagian kecil dari keanekaragaman itu. Apakah sastra yang ditulis dengan bahasa daerah termasuk sastra nasional? Jawabnya harus iya. Apalagi jika sastra itu ditulis dalam bahasa nasional, hanya saja mengandung nilai lokal yang kental sebagaimana yang diusung Ahmad Tohari maupun Marhalim Zaini. Nah, jika sastra daerah merupakan bagian dari sastra nasional, tentunya tidak tepat jika kita menyebut sastrawan daerah tidak berjiwa nasionalis. Membesarkan sastra daerah imbasnya adalah membesarkan sastra nasional. Memberdayakan sastrawan-sastrawan daerah juga berarti mengangkat derajat sastra nasional. Suatu hal yang wajar jika MZ sebagai sastrawan Riau, secara terperinci berbicara tentang ihwal regenerasi sastra Riau. Wajar jika MZ dalam upaya mengangkat derajat sastra Riau menyemangati sastrawan-sastrawan Riau untuk rajin menyerang media dan lebih instens berkarya. Bukankah jika sastra Riau maju, derajat sastra Indonesia juga akan terangkat dengan sendirinya?
Indonesia adalah negara kepulauan yang dihuni berbagai macam suku. Ada Melayu, Minang, Jawa, Sunda, Batak dan masih banyak lagi. Masing-masing suku mewakili daerah tertentu, kebiasaan tertentu, budaya tertentu yang belum tentu sama antara satu dengan yang lain. Tapi bukankah keaneka ragaman itu yang membuat Indonesia ini kaya akan seni dan budaya? Dan meski berbeda-beda bukankah kita bertekad tetap satu sebagaimana semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang kita usung?
Sempit sekali pemikiran jika ada yang menyamakan lokalitas dengan rasis, ekslusif ataupun tidak nasionalis. Wajar jika MZ yang lahir dan besar di Riau menghasilkan karya-karya yang sangat kental nuansa Melayunya. Sewajar jika ZW yang lahir dan besar di Sumatera Barat menghasilkan karya-karya yang kental nuansa Minangkabaunya. Setiap penulis sebagai pribadi pasti terpengaruh dengan satu atau dua kebudayaan daerah tertentu. Bisa dikarenakan faktor keturunan (suku), faktor lingkungan (komunitas), maupun faktor geografis (tempat tinggal). Justru nuansa lokal yang beragam itu yang membuat karya-karya sastra Indonesia terasa ‘hidup’, ‘kaya’ dan eksotis. Makin heterogen kebudayaan, niscaya akan semakin luas daya eksplorasinya. Maka dengan keberanekaragaman ini seharusnya kita sebagai penulis merasa sangat beruntung, karena banyak sekali tema dan setting yang bisa kita pilih. Dan penikmat sastra juga merasa beruntung, karena banyak memiliki pilihan karya sastra untuk dibaca.
Saya setuju dengan MZ, bahwa suatu karya sastra, sekental apapun nuansa lokalnya, tetaplah sebuah karya yang universal. Dan sebuah karya sastra, sekental apapun nuansa lokalnya, tetaplah karya sastra nasional. Jadi mari kita angkat karya sastra daerah kita setinggi-tingginya, sebarluaskan sejauh-jauhnya, tanpa perlu takut dituduh rasis, tidak nasionalis atau pun ekslusif. Karena kalau bukan kita sebagai sastrawan, siapa lagi yang bisa kita harapkan mengusung karya sastra daerah kita? Apa perlu kita menunggu orang Malaysia yang mengusung karya sastra Riau dan mengklaimnya sebagai karya sastra mereka?
Kalau kita cermati akhir-akhir ini cukup banyak iven-iven sastra yang bernuansa kedaerahan. Diantaranya adalah lomba penulisan puisi dan cerpen berbasis cerita rakyat yang digelar di Jambi, lomba penulisan cerita rakyat Riau, Krakatau Award di Lampung, dan masih banyak lagi. Peserta iven-iven tersebut biasanya tidak dibatasi harus dari daerah penyelenggara acara, asalkan karya-karyanya mengandung muatan lokal yang disyaratkan. Itu adalah bukti bahwa untuk membangun sastra daerah tidak harus bersifat ekslusif. Bahkan beberapa Dewan Kesenian Daerah telah membuka diri dengan menerima karya-karya sastra dari penulis-penulis daerah lain untuk turut serta dalam lomba menulis yang mereka taja. Sebagai contoh, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) misalnya. Coba kita amati, seberapa sering penulis Jakarta yang memenangkan lomba menulis novel/ roman DKJ dibandingkan dengan penulis dari daerah/provinsi lain?
Sekali lagi, tulisan ini sama sekali tidak bermaksud membela MZ ataupun menyalahkan ZW. Bagaimana pun setiap polemik harus disikapi secara bijaksana. Dalam dunia sastra, kehadiran debat sastra atau pun polemik di media justru akan menggairahkan para sastrawan untuk ikutan bicara dan menyuarakan pedapat mereka masing-masing. Entah itu melalui diskusi di komunitas-komunitas sastra, di milis-milis sastra, maupun di media cetak.
Tidak perlu melupakan Indonesia, Bang MZ. Jangan pula merasa gamang menjadi Melayu. Menjadi rasis pun tidak apa, asalkan rasis dalam arti positif.

April 21, 2008

BBN vs Ketahanan Pangan

Bahan Bakar Nabati vs Ketahanan Pangan
Oleh : Wetri Febrina*)

Ketika harga minyak melambung di atas 100 US dollar per barel, masyarakat dunia kontan terhenyak dan perlahan terseret dalam arus inflasi. Berbagai usaha dilakukan untuk menghemat pemakaian bahan bakar minyak (BBM), salah satunya dengan giat memproduksi energi alternatif yang baru dan terbarukan (new and renewable). Dan pamor Bahan Bakar Nabati (BBN) pun naik dan menjadi perbincangan di media massa.
Sebenarnya bukan hanya karena tingginya harga BBM yang memicu meningkatnya produksi BBN, melainkan juga karena kesadaran untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih. Protokol Tokyo yang disepakati tahun 1997 dilanjutkan Peta Jalan Bali (Bali’s Road Map) tahun 2007 merumuskan berbagai langkah yang harus segera diambil untuk menyelamatkan lingkungan, diantaranya dengan pengurangan emisi gas karbon yang merupakan sumber penyebab utama pemanasan global.
Negara-negara maju dan negara-negara berkembang berlomba-lomba memproduksi BBN. Amerika tak tanggung-tanggung, memamfaatkan lebih 20% produksi jagung untuk memproduksi BBN (bioetanol). India memproduksi BBN (bioetanol) dari tebu, negara-negara Asia Tenggara memproduksi BBN (biodiesel) dari minyak kelapa sawit mentah (CPO), dan di Indonesia biodiesel sebagian diproduksi dari minyak jarak pagar. Tidak ketinggalan adalah produksi BBN (bioetanol) dari ubikayu, jagung, tebu, dan bahan pangan lainnya dan produksi BBN (biodiesel) dari kacang tanah, kacang kedelai, dan jenis kacang-kacangan lainnya. Pendek kata telah terjadi pergeseran pemamfaatan hasil pertanian, dari sumber persediaan pangan menjadi bahan baku industri.
Akibatnya apa? Telah terjadi impor hasil pertanian secara besar-besaran dari negara-negara miskin/berkembang yang berlahan luas tapi minim teknologi ke negara-negara maju yang berteknologi tinggi tapi minim lahan pertanian. Harga komiditi pertanian langsung melonjak. Mulai dari CPO, kacang kedelai, jagung, dan buntutnya berimbas pada kenaikan harga beras. Di Indonesia terjadi ekspor CPO secara besar-besaran yang menyebabkan kenaikan harga minyak goreng. Bahkan kenaikan biaya pungutan ekspor tidak mampu mengurangi laju pengiriman CPO ke luar negeri. Bahkan disinyalir telah terjadi ekspor CPO illegal melalui pelabuhan-pelabuhan di Riau dan Kepulauan Riau yang menyebabkan kerugian besar pada negara.
Jika kita tinjau sejarah perkembangan BBN di Indonesia, dimulai dengan terbentuknya Masyarakat Energi Hijau Indonesia (2005), B2TE-BPPT, Eka Tjipta Foundation dan Timnas Pengembangan BBN, awalnya memiliki tujuan mulia yaitu menciptakan bahan bakar bersih (cleaner fuel) dan meningkatkan kesejahteraan petani. Indonesia sebagai negara agraris berpotensi menjadi pemasok hasil pertanian terbesar di dunia jika dilakukan pemberdayaan dan pendiversifikasian hasil pertanian. Kehidupan petani yang identik dengan kemiskinan bisa dirubah dengan mengarahkan mereka untuk menanam tanaman sumber BBN seperti kelapa sawit, kedelai, jagung, jarak pagar, ubi kayu dan lain sebagainya. Namun pada perkembangannya, tujuan mulia ini menjadi kurang tepat sasaran. Apalagi tidak diiringi dengan proteksi dari pemerintah, dalam hal ini adalah Menteri Pertanian, Menteri Perdagangan, dan Menteri Energi dan Sumber Daya Manusia.
Bagaimana pengusaha CPO tidak ngiler dengan harga CPO yang gila-gilaan di pasar dunia? Daripada mengolah CPO menjadi minyak goreng dengan keuntungan kecil, mending mereka ekspor CPO dong! Di negara-negara miskin Afrika dan Amerika Latin juga muncul fenomena yang sama. Daripada menjual produk jagung mereka di dalam negeri, mending mereka ekspor ke Amerika Serikat yang memang sedang doyan-doyannya memamah jagung buat dijadikan bioetanol.
Mereka lupa, bumi yang sudah beratus tahun disakiti ini, terutama sejak Revolusi Industri di abad 19, mulai menunjukkan kemurkaannya. La Nina dan El Nino datang dan pergi tanpa permisi, juga segala macam amuk badai taufan, gempa, banjir dan entah apa lagi. Dunia dihentak oleh kelangkaan pangan. Di Afrika, ratusan ribu bahkan jutaan manusia tewas kelaparan. Bahkan di Indonesia yang katanya gemah ripah loh jinawi ini, puluhan kasus gizi buruk ditemukan setiap minggunya. Dan yang paling tragis adalah tewasnya dua anak beranak karena busung lapar beberapa waktu yang silam. Miris!
Lalu bagaimana solusinya? Jelas program BBN tidak bisa sepenuhnya disalahkan, hanya saja sistimnya lah yang perlu dibenahi. Jangan hanya karena ingin menghemat BBM, ratusan juta rakyat Indonesia harus menahan lapar setiap hari. Sebab apa gunanya juga trilyunan duit yang berhasil dihemat dari subsidi BBM jika tidak ada lagi makanan yang bisa dibeli. Manusia tidak bisa makan duit, makanannya nasi!
Mungkin sudah saatnya Indonesia kembali menjadi negara agraris, yang bisa berswasembada beras seperti di era Soeharto. Dan sudah saatnya pula Indonesia tidak dikendalikan oleh pengusaha yang profit oriented. Proteksi harga harus benar-benar dikendalikan oleh pemerintah. Dan yang pasti, cadangan pangan jangan hanya menjadi obralan basi BULOG belaka, harus jelas buktinya! Jangan sampai pernah terjadi lagi kematian karena busung lapar di negeri yang subur ini. Negeri yang katanya gabah terjatuh saja bisa tumbuh jadi padi. Pertanian terstruktur harus benar-benar dikembangkan. Jangan hanya karena kelapa sawit lebih menguntungkan, persawahan rakyat digusur. Pemerintah juga wajib mengupayakan para petani memiliki lahannya sendiri-sendiri, misalnya dengan memberdayakan lagi program transmigrasi yang akhir-akhir ini tidak terdengar lagi gaungnya. Jangan sampai ada petani yang seumur hidup menjadi buruh di sawah dan ladang orang lain. Lebih celaka lagi jika menjadi buruh di tanah dan perusahaan milik orang asing. Padahal tanah ini, warisan nenek moyang kita, kita rebut dengan darah dan nyawa dari tangan penjajah. Jika Penanaman Modal Asing (PMA) dibuka terlalu lebar, yang ada rakyat Indonesia tetap miskin sedang negara asing itu semakin kaya raya.
Penulis bukannya anti terhadap BBN, melainkan prihatin terhadap kondisi dunia akhir-akhir ini. Harga minyak goreng melambung, beras melambung, kedelai melambung, kita mau makan apa? Belum lagi banjir yang menimpa saudara-saudara kita di Pekanbaru. Sudahlah harga mahal, penghasilan tak ada, apa tidak celaka itu namanya?
BBN jelas perlu dikembangkan karena persediaan BBM semakin menipis. Belum lagi kenaikan harga BBM yang membuat pemerintah semakin kewalahan menanggung subsidi. Jika harga BBM naik lagi, rakyat jugalah yang jadi korban. Kemiskinan akan semakin bertambah, dan kematian karena kelaparan bukan mustahil akan kembali terulang. Pemberian BLT (Bantuan Langsung Tunai) harus tepat pada sasaran, harus benar-benar sampai di kantung rakyat miskin. Begitupun pemberian raskin, askeskin dan bantuan lainnya.
Terakhir, hematlah! Kalau bisa berjalan kaki, kenapa mesti naik motor? Kalau masih bisa naik angkot, kenapa mesti naik mobil pribadi? BBM tidak akan ada selamanya. Bahkan diyakini tahun 2020 cadangan minyak di Riau ini akan benar-benar habis tandas.
*) Penulis adalah dosen jurusan Teknik Industri pada Sekolah Tinggi Teknologi Dumai.

Maret 30, 2008

COBAAN

Juara I LKT MUI Bengkalis 2008

Magrib.
Azab mengalun mendayu-dayu, terbawa angin sampai ke pelabuhan, kebun sawit, bukit-bukit, menelusup ke kampung-kampung, rumah-rumah, ke telinga Ustad Suman. Tapi lelaki setengah baya itu tetap bergeming, tetap larut dalam pemikiran, mengisap rokok kretek di tangannya tak putus-putus. Wajahnya kalut.
“Tak ke mesjid, Bang?” Mak Saidah, istri Ustad Suman memberanikan diri menegur, demi melihat tak ada juga tanda-tanda suaminya akan bangkit menunaikan sholat Magrib. Mak Saidah sendiri sudah memakai telekung putih, siap-siap berangkat untuk sholat berjemaah ke mesjid.
“Tak lah,” Ustad Suman menggeleng. “Kau pergi sendiri saja. Biar aku sholat di rumah.” Itu pun kalau pikiranku lapang, sambung Ustad Suman dalam hati. Apa gunanya sholat tunggang tunggik kalau pikiran kusut? Bukannya dapat pahala, malah dapat murka.
“Pergilah, Bang,” Mak Saidah mendesak. “Sudah hampir sebulan Abang tak ke mesjid. Makin bertanya-tanya orang kampung. Biasanya menjadi imam dan memberi ceramah, tapi kini mendadak hilang. Segan aku, Bang.”
“Malu aku, Dah,” Ustad Suman menghela nafas. “Tak sanggup lagi kupandang muka orang.”
“Nasi sudah menjadi bubur, Bang. Si Atikah pun sudah kita nikahkan.”
“Tapi arang yang tercoreng di keningku ini tak bisa hilang. Percuma saja aku menceramahi orang tapi anakku sendiri tak bisa kubina.”
“Sudahlah, Bang.”
Ustad Suman menggeleng sedih. Keperihan merambati hatinya mengingat prahara yang menimpa keluarganya belakangan ini……..

Sebagai seorang Ustad, Ustad Suman sangat dihormati di lingkungan tempat tinggalnya. Tempat bertanya orang kampung, mulai dari urusan agama sampai urusan sehari-hari. Di kampung kecil itu, suasana sangatlah islami. Mesjid yang berdiri di tengah kampung selalu sesak sedari Magrib sampai Isya. Disitulah Ustad Suman biasa memberi ceramah agama dan mengajar mengaji.
Meski berpenghidupan sederhana sebagai guru Tsanawiyah, Ustad Suman tetap giat dan ulet. Lebih sepuluh tahun lamanya dia anak beranak hidup dalam keprihatinan, demi mencicil pembelian beberapa hektar kebun sawit.
“Buat bekal kuliah Atikah dan Fadli,” demikian Ustad Suman berujar pada istrinya. “Pandai-pandailah dulu kau mengatur uang belanja beberapa tahun ini. Kelak jika sawit sudah berbuah, barulah kita bisa lapang sedikit.”
Sebagai seorang istri, Mak Saidah sangatlah penyabar. Padahal berapalah gaji seorang guru MTs Swasta? Tidak berutang saja, gaji suaminya pas-pasan sekali buat biaya hidup mereka berempat anak beranak. Apalagi sekarang dipotong cicilan kredit bank yang hampir separuh gaji.
“Allah tak akan merubah nasib suatu kaum, kalau kaum itu tidak bisa merubah nasibnya sendiri,” demikian Ustad Suman memberi ceramah di mesjid.
“Kalau tidak dikuat-kuatkan, tak akan berubah nasib kami,” kata Ustad Suman pada rekannya sesama guru di MTs. “Demi kuliah anak-anak, makanya aku nekad berutang untuk membeli kebun sawit. Demi masa depan, maka kulepas anak-anakku kelak kuliah di luar Bengkalis. Anak-anak kampung disini, rata-rata sekolah cuma sampai MTs. Setelah itu menjadi petani. Pantas kampung kita begini-begini saja, karena tak ada pemudanya yang menuntut ilmu sampai perguruan tinggi.”
Kini sepuluh tahun sudah berlalu. Kebun sawit Ustad Suman sudah berbuah. Hutangnya pun sudah lama lunas. Penghidupan keluarga itu pun sudah jauh berubah. Tak ada lagi rumah sederhana berdinding papan, sudah berganti rumah tembok yang lebih megah. Tak ada juga sepeda motor tua di halaman, berganti dua mobil sedan. Satu dipakai Ustad Suman ke sekolah, satu lagi dipakai Fadli yang kini sudah SMA.
Ustad Suman sudah lupa dia pernah memberi ceramah, “Hiduplah sederhana seperti junjungan kita Nabi Muhammad. Karena Allah membenci segala sesuatu yang berlebih-lebihan.”
Sekarang Ustad Suman sendiri yang berlebih-lebihan. Pergi ke mesjid saja yang cuma beberapa ratus meter dari rumahnya, dia masih juga memakai sedan.
Betapa sulitnya mengaktualisasikan ajaran Nabi Muhammad pada kehidupannya sekarang. Anak-anaknya pun setali tiga uang. Si Fadli yang biasanya tiap malam rajin ke mesjid, sejak punya mobil sekarang lebih suka keluyuran. Si Atikah yang sekarang kuliah di Pekanbaru pun sudah lama tanggal jilbabnya. Alasannya, “Kalau pakai jilbab, susah mencari kerja. Apalagi aku kuliah di jurusan Perbankan yang suatu saat akan bekerja di Bank.”
Hanya Mak Saidah yang tidak berubah. Tapi perempuan itu pun tidak berdaya menegur suami dan anak-anaknya yang mulai melenceng dan salah jalan.
Pernah suatu waktu Mak Saidah pergi ke Pekanbaru mengunjungi Atikah. Nyaris copot jantung perempuan itu mendapati puntung rokok berserakan di kamar kos anak gadisnya. Atikah sendiri sama sekali tidak merasa bersalah, santai saja merokok di hadapan ibunya.
“Jaman sudah modern, Mak,” demikian Atikah menceramahi ibunya. “Perempuan merokok sudah biasa. Si Fadli bahkan lebih dari itu. Waktu pulang ke Bengkalis bulan lalu, aku mendapati pil narkoba di kamarnya.”
Panas dingin rasa badan Mak Saidah demi melihat perangai anak-anaknya. Perempuan itu hanya bisa mencucurkan air mata, memohon ampunan kepada Allah. Sungguh perempuan itu tak mengerti, kenapa justru semakin modern jaman semakin jahiliyah kelakuan anak-anaknya.
“Cobaan itu tidak hanya berupa kemiskinan, tapi juga bisa berupa kekayaan,” demikian Mak Saidah pernah mendengar. Dan memang sekarang keluarga mereka sedang dicoba dengan kilauan harta permata, dengan hingar bingar kehidupan modern. Hanya demi tidak dibilang kampungan, melenceng sudah dari ajaran Nabi. Anak-anak Mak Saidah yang masih remaja tidak mampu bertahan terhadap cobaan harta dan modernitas. Dimulai dari Fadli yang menjadi pencandu narkoba, hingga si Atikah yang akhirnya hamil di luar nikah.
Malu.
Aib.
Sebenarnya Mak Saidah sudah hilang akal, tak tahu lagi kemana menyurukkan muka. Tapi disabar-sabarkannya juga supaya tidak ambruk mereka anak beranak. Sementara Ustad Suman, suaminya lebih memilih menyembunyikan diri di rumah. Mengajar di MTs pun sudah berhenti. Alasannya ingin menyembunyikan kening yang tercoreng arang, tapi sampai kapan?
Terpaksa Mak Saidah sendirian pontang-panting memberesi segala urusan. Mulai dari mengirim si Fadli ke panti rehabilitasi narkoba, sampai mengurus pernikahan Atikah. Ustad Suman hanya menonton saja sambil berkeluh kesah.
“Aku letih menanggung malu, Dah. Apa tidak sebaiknya kita pindah saja ke Pekanbaru?” usul Ustad Suman sambil menerawang.
“Hidup dimana saja sama lah, Bang. Sedang di kampung kecil ini saja kita sudah kalah terhadap godaan jaman, apa lagi di kota besar? Istigfar, Bang. Mohon ampun kepada Allah. Dan mari kita kembali ke kehidupan kita yang lama. Saat semuanya sangat sederhana tapi kita bahagia.”
Ustad Suman tidak menjawab. Matanya menerawang menembus senja yang makin gelap. Sudah sebulan dia tak pernah lagi sholat Magrib.

Subuh.
Azan mengalun mendayu-dayu, terbawa angin ke pelabuhan, ke kampung-kampung, ke pucuk sawit, ke atap rumah, ke telinga Ustad Suman. Tapi tak mampu membangunkan lelaki itu dari tidurnya yang lelap.
“Dug! Dug! Dug!” ketukan keras di pintu yang akhirnya membuatnya tersentak. Mak Saidah yang baru saja hendak sholat subuh tak kurang terkejutnya. Siapa gerangan yang bertamu subuh-subuh begini?
“Aku, Mak! Udin!” teriak orang di balik pintu.
Mak Saidah bergegas membuka pintu. “Oh kau, Din. Apa gerangan kabar kau datang subuh-subuh begini?”
Ustad Suman keluar kamar dengan rambut masai dan mata merah, “Kenapa, Din?”
“Celaka, Ustad. Api merambat sampai ke kebun,” ujar Udin tersenggal-senggal. “Kebakaran hutan dan lahan sampai juga ke kebun kita, Ustad. Tak sanggup aku dan Anto memadamkan api. Amanat Ustad kepada kami sebagai penjaga kebun, tak sanggup lagi kami pikul. Ini sudah diluar kuasa kami, Ustad.”
“Astagfirullah, “ Mak Saidah mengurut dada.
Ustad Suman terperosok di lantai. Lemas sudah lutut-lututnya.
“Habis, Din?” tanyanya dengan bibir gemetar. “Habis terbakar semua?”
Udin tak sempat menjawab. Mak Saidah menjerit, demi melihat Ustad Suman yang membekap dadanya.
“Kenapa Bang?!! Abang!!”
“Sepertinya kena serangan jantung, Mak!” teriak Udin tak kalah panik.

Dumai, Maret 2008.

Sajak Senja

Remang
Senja gulana
Angin mengirim miris
Ada urai air mata
Tercekat dalam sebak
Dan tangis tertahan
Gerimis merinai
Siang usai

Kenapa harus kepada senja
Aku luahkan segala gulana?
Sementara malam setia mengirim cekam
Pada gigil penghabisan
Apa karena aku percaya bahwa diujung malam
Hari baru akan dimulai?

4/3/08

Maret 27, 2008

Dosen STT Dumai Juara Pertama Lomba Menulis MUI

Riau Pos, Rabu 26/3/08
BENGKALIS (RP) - Wetry Pebrina (30) dosen Sekolah Tinggi Teknologi Dumai, tampil sebagai juara pertama lomba menulis, sempena Pekan Maulidurrasul 1429 Hijriah, yang ditaja Majlis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bengkalis, bekerja sama dengan Pemkab Bengkalis.

Penulis aktif yang telah menghasilkan dua buah cerpen terbitan Jakarta tersebut, menjadi yang terbaik dari sekitar 50 karya tulis yang masuk ke meja panitia. Wetry menulis fiksi dengan judul Cobaan, berkisah tentang keluarga seorang ustad yang sederhana namun kemudian ‘ingkar’ karena sibuk mengurusi harta. Sebetulnya, pesan yang ingin disampaikan penulis dalam tulisannya adalah, sulitnya mengaplikasikan keteladanan Rasulullah, kendati keluarga ustad itu hanya tinggal di desa terpencil.

Sedangkan juara kedua diraih Bagus Santoso dari Bengkalis. Santoso mengangkat tulisan Ayat-Ayat Cinta (Mengatualkan Islam se- Hari-hari). Kendati hanya meraih tempat ke dua, namun sejumlah dewan juri mengaku memberikan apresiasi kepada mantan wartawan Riau Pos Group ini. Di tengah kesibukan yang begitu padat, Wakil Ketua DPRD Bengkalis ini masih memiliki kesempatan membuat sebuah karya tulis.

“Terus terang saya kagum, sangat sedikit sekali orang yang bisa menulis ketika berbagai kesibukan menyertainya. Karena untuk membuat sebuah karya tulis kendati hanya lima halaman, itu memerlukan waktu khusus. Mudah-mudahan ini bisa memacu kita semua untuk gemar dan belajar menulis,” ungkap Ketua MUI Bengkalis Masdaruddin MAg.

Santoso sendiri, ketika dihubungi untuk dimintai pendapatnya, sambil tertawa mengatakan, bahwa berda’wah itu bisa dilakukan siapa saja. “Saya tidak melihat ini sebagai sebuah perlomabaan. Hitung-hitung mengasah bakat lama. Dan berdakwah itu kan bisa dilakukan siapa saja, dan saya menangkap hal itu dalam gawean MUI kali ini,” ungkap dosen STAI Bengkalis yang masih aktif menulis di sejumlah media ini.

Sementara juara ketiga diraih Lailatul Badriah. Mahasiswa STAI Bengkalis ini mengangkat tulisan dengan judul Sang Idola di Era Globalisasi. Untuk juara haparan 1 diraih oleh M Rizal, dengan judul tulisan Muhammad Bukan Idola Biasa, harapan II Meri Agustina dari Kecamatan Mandau, dengam judul tulisan Mereka Sungguh Berani, terakhir harapan III diraih Dewi Handayani, juga mahasiswa STAI Bengkalis dengan judul tulisan Islam Dulu Kini dan Akan Datang.

Dalam pada itu tiga orang dewan juri yang memeriksa sejumlah tulisan hampir saja kecolongan, pasalnya salah satu karya tulis sudah dinyatakan sebagai pemenang oleh juri. Ketiganya sepakat bahwa salah satu tulisan yang dikirim oleh penulis di luar Kabupaten Bengkalis sebagai pemenang.

Beruntung ketika itu ada panitia yang menyerahkan tulisan tersebut kepada ketua MUI Kabupaten Bengkalis Masdaruddin. Belum selesai membaca, Masdar berani mengatakan tulisan tersebut adalah buah karya Jalaluddin Rakhmat, yang dijiplak oleh penulis dalam salah satu buku karya tokoh terkenal itu.

Benar saja, ketika buku yang dimaksud diambil dan dibaca bersama-sama, hampir seluruh kata dan kalimat dalam buku tersebut dijiplaknya. “Beruntung Ketua MUI pernah membaca buku itu, kalau tidak kami sudah melakukan kesalahan,” kesal Musa Ismail, salah seorang dewan juri sembari mencoret nama penulis yang mengirimkan tulisan hasil jiplakan.(evi)

Maret 25, 2008

Bagaimana Mengapresiasikan sastra

Essay Budaya
Dimuat di Riau Pos edisi Ahad 24 February 2008

BAGAIMANA MENGAPRESIASIKAN SASTRA
Oleh : Wetry Febrina*)


Jika boleh mengutip kata-kata Aristoteles, “Sastra adalah jalan menuju kebenaran setelah wahyu, filsafat dan ilmu pengetahuan,” saya merasa bahwa sastra tidak lain merupakan bagian seni yang termarjinalkan. Taruhlah itu hanya pendapat seorang Aristoteles, yang belum tentu mewakili pendapat publik. Sudah syukur Aristoteles mau mengakui adanya wahyu (agama), ilmu pengetahuan dan sastra, karena kebanyakan filsuf beranggapan bahwa filsafatlah yang paling tepat untuk mencari jalan kebenaran.
Aristoteles hanyalah seseorang yang hidup di masa lalu, tapi entah kenapa kutipan kata-katanya itu menimbulkan keresahan kepada saya sampai sekarang. Apa benar bahwa posisi sastra adalah di belakang wahyu, filsafat dan ilmu pengetahuan?
Coba kita lihat kondisi dunia sastra di Indonesia pada masa sekarang. Seberapa banyak sih orangtua yang mengarahkan anaknya menjadi pengarang ketimbang menjadi dokter atau insinyur misalnya? Di perguruan-perguruan tinggi, mahasiswa fakultas sastra sering dipandang sebagai warga kelas dua. Di pergaulan masyarakat, profesi penulis atau penyair sering dianggap pekerjaan sambilan. Sehingga jika ada seseorang yang dengan lantang menyebut profesinya penulis, masyarakat sekitarnya akan mengatakannya sebagai seseorang yang tidak memiliki pekerjaan, alias pengangguran!
Miris. Dan mau tak mau mengingatkan saya pada beberapa sastrawan besar yang sampai sekarang hidupnya masih berkekurangan. Kemana-mana naik bis dan kereta, masih tinggal di rumah kontrakan dan sering kekurangan uang. Sebagian dari mereka berbesar hati menganggap bahwa itu adalah harga yang pantas untuk sebuah totalisme. Tapi saya yang berkecil hati ini menganggap, betapa rendahnya penghargaan pemerintah dan masyarakat terhadap profesi sastrawan.
Pada Sabtu (16/2) kemaren saya berkesempatan menghadiri acara ulang tahun sebuah milis sastra di Jakarta. Acara yang digagas dengan konsep ’dari kita untuk kita’ ini sukses mempertemukan dua kubu : senior dan junior, penyair dan penulis, idola dan penggemar, tua dan muda, dan lain sebagainya. Berbagai antraksi menarik juga disuguhkan. Antara lain monolog ’Tragedy Apel Newton” oleh Danarto, pembacaan cerpen oleh Hamsad Rangkuti, monolog’Cantik Itu Luka’ karya Eka Kurniawan, pembacaan puisi, teater dan lain sebagainya. Karena anggota milis ini kebanyakan adalah penyair dan penulis, maka apresiasi mereka terhadap sastra kiranya tak bisa diragukan lagi. Maka beberapa jam pertama atmosfir sastra yang menguar disana benar-benar saya nikmati.
Tapi kondisinya berbeda saat sebuah kelompok teater mahasiswa di Jakarta bersiap-siap tampil membawakan ’Perempuan Kembang Jepun’ karya Lan Fang. Atmosfir sastra disana sedikit berubah seiring hadirnya beberapa anak muda (mahasiswa) yang ingin menyaksikan penampilan. Saya yang duduk nyempil di pojok, dekat sekali dengan mereka, mau tak mau terusik dengan celetukan dan komentar yang mencerminkan betapa miskinnya apresiasi anak muda terhadap sastra. Okelah, anak-anak muda itu datang untuk melihat penampilan teman-teman mereka, bukan melihat penampilan para sastrawan senior sekelas Danarto dan Hamsad Rangkuti. Mereka bahkan tak kenal siapa itu Hamsad dan Danarto!
Lalu siapa yang salah dengan kondisi ini? Kurikulum pendidikan yang masih memarjinalkan sastra atau sastrawan itu sendiri? Sedih mengingat bahwa anak-anak muda luar negeri antusias membaca karya Pramudya, sedang anak muda di Indonesia balik bertanya, ”Pramudya siapa sih?” Disaat anak-anak sekolahan di luar negeri aktif menelaah karya-karya Shakespeare, Tolstoy dan Kafka, anak-anak sekolahan disini masih saja dicekoki apa perbedaan antara angkatan Pujangga Baru dengan Balai Pustaka. Lebih parahnya lagi soal-soal ujian yang menanyakan hal-hal sepele, seperti dimana Chairil Anwar lahir atau tanggal berapa Marah Rusli lahir. Benar-benar miris...
Tak heran jika perkembangan sastra di tanah air cenderung jalan di tempat. Kalaupun ada beberapa sastrawan muda yang menggebrak, tapi jumlah mereka masih sangat sedikit. Padahal seiring dengan berakhirnya era orde baru diharapkan dunia sastra akan menemukan jalan pembebasan. Karya sastra yang bebas dari segala intimidasi dan campur tangan pemerintah, sastrawan yang bebas menulis tanpa harus gelisah bakal menghadapi nasib seperti Pram : dipenjara tanpa alasan yang jelas. Tapi kenyataannya, momen bagus ini masih sangat sedikit dimamfaatkan. Apa karena sastrawan-sastrawan tua masih sulit membebaskan imajinasi mereka, atau karena sastrawan-sastrawan muda belum bisa mengasah kemampuan dan pengalaman mereka, atau mungkin karena perpaduan sebab keduanya. Entahlah.
Beberapa sastrawan muda yang menemukan jalan kebebasannya setelah orde baru diharapkan bisa menjadi pembuka jalan bagi sastrawan muda lainnya. Diantaranya yang bisa kita jadikan role model adalah Ayu Utami dengan Saman-nya dan Eka Kurniawan dengan Cantik Itu Luka-nya. ”Saman” karya Ayu Utami saat ini sudah diterjemahkan ke beberapa bahasa asing seperti Inggris, Prancis dan Jerman. Sedang ”Cantik Itu Luka” karya Eka Kurniawan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Di belakang mereka berbaris sastrawan-sastrawan muda yang tak kalah kemampuannya, antara lain Jenar Mahesa Ayu, Dewi Lestari, Fira Basuki, Nova Riyanti Yusuf, dan masih banyak lagi.
Kembali ke topik kita, bagaimana mengapresiasikan sastra, saya berpendapat ini bukanlah pekerjaan pribadi, melainkan pe-er bagi pemerintah, masyarakat dan sastrawan itu sendiri. Pemerintah terutama departemen pendidikan harus menyusun ulang kurikulum yang bisa menunjang kemampuan sastra, terutama untuk pendidikan dasar dan menengah. Meski sastra bukan segalanya, setidaknya dengan sastra kita bisa mendidik anak-anak muda berbudaya. Dengan sastra, anak-anak muda itu diharapkan bisa menyalurkan energi mereka, minat dan bakat mereka. Sehingga di masa depan tidak kita jumpai lagi anak-anak yang melakukan hal-hal negatif, hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan manusia yang berbudaya. Percayalah, sastra sebagai bagian dari seni dan budaya memiliki pengaruh terhadap perkembangan kepribadian dan akhlak anak muda, selain agama tentunya.
Mengapresiasikan sastra juga tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan membaca. Disinilah masyarakat diharapkan berperan serta. Kecenderungan dimana Tivi menjadi pusat hiburan dan informasi harus kita minimalisir. Sebaliknya, kecenderungan membaca harus dimaksimalisir. Orang yang suka membaca, biasanya jauh lebih berwawasan dan lebih arif ketimbang orang yang suka menonton Tivi. Karena disaat membaca, otak kita juga dituntut menelaah, memilah dan menganalisa. Sedang saat kita menonton, kita cenderung malas dan menerima begitu saja segala fakta. Tak heran masyarakat sekarang cenderung agresif dan berpikiran sempit, karena kebiasaan menonton tivi telah berurat berakar dalam keseharian mereka.
Terakhir, sastrawan dengan komunitasnya diharapkan mampu menjembatani antara sastra, budaya, seni, politik dan kehidupan masyarakat dengan segala tetek bengeknya. Karena sebagai bagian dari masyarakat, sastrawan tidak bisa hidup dalam dunianya sendiri. Jadi kesan bahwa sastrawan itu bersifat egosentris, introvert dan antisosial harus bisa kita kikis dengan cara lebih bersosialisasi.
Sama sekali tidak ada maksud menggurui dalam tulisan ini. Karenanya jika ada pihak yang tersinggung, saya memohon maaf dengan rendah hati.
Dumai, 20 February 2008



Wetry Febrina adalah novelis, cerpenis sekaligus dosen sebuah PTS di Dumai. Bisa dihubungi lewat email wetry_14@yahoo.com